Alasan Khabib Nurmagomedov Tak Pernah Jajal Kelas Welter, Joaquin Buckley: Tangannya Terlalu Pendek!
Mengungkap Tabir Misteri: Khabib Nurmagomedov, Kelas Welter, dan 'Teori Lengan Pendek' yang Menggelitik
Oke, guys, bicara soal legenda di dunia tarung bebas alias Mixed Martial Arts (MMA), khususnya di panggung megah Ultimate Fighting Championship (UFC), nama Khabib Nurmagomedov itu sudah pasti masuk dalam daftar teratas, bahkan mungkin banyak yang menempatkannya di posisi puncak. Perjalanan kariernya itu loh, benar-benar bikin geleng-geleng kepala. Rekornya? Sempurna! 29 kemenangan tanpa sekalipun tersentuh kekalahan. Sebuah pencapaian yang, sampai hari ini, masih terasa seperti dongeng bagi sebagian orang.
Dia mendominasi divisi kelas ringan, alias 155 pon, dengan cara yang brutal dan efisien. Teknik gulatnya itu, astaga, seolah dia punya magnet khusus yang bisa menempelkan lawan ke kanvas dan membuat mereka tak berkutik. Siapa saja yang ia hadapi di kelas ringan, mulai dari nama-nama beken seperti Conor McGregor, Dustin Poirier, sampai Justin Gaethje, semuanya merasakan keganasan 'The Eagle' ini.
Pertarungan terakhirnya terjadi di tahun 2020, sebuah momen emosional di mana ia memutuskan untuk menggantung sarung tangan, menepati janjinya pada sang ibunda setelah kepergian ayahnya yang tercinta, Abdulmanap Nurmagomedov. Dia pergi di puncak kejayaan, sebagai juara kelas ringan, dengan rekor 29-0 yang abadi.
Tapi, di balik kisah epik ini, ada satu babak yang tidak pernah terbuka, satu 'misteri' kecil yang kerap jadi bahan obrolan di kalangan penggemar dan analis MMA: Khabib tidak pernah sekalipun menjajaki ketatnya persaingan di divisi kelas welter, alias 170 pon.
Ini menarik loh. Mengapa? Padahal, kita tahu Khabib itu seringkali berjuang keras, bahkan sampai terlihat tersiksa, dalam proses memotong berat badan untuk tetap berada di batas 155 pon. Momen-momen dramatis saat timnya membantunya melewati timbangan itu bukan pemandangan langka. Dengan kesulitan seberat itu, logikanya kan, naik ke kelas 170 pon yang notabene lebih 'longgar' dari sisi berat badan, seharusnya jadi pilihan yang lebih masuk akal, bahkan mungkin lebih sehat untuknya.
Tapi itu tidak pernah terjadi. Khabib tetap setia, atau mungkin 'terkunci', di kelas ringan hingga akhir kariernya.
Sekarang, kilas balik ke masa kini. Kita punya Islam Makhachev. Dia ini, seperti yang kita semua tahu, adalah murid kesayangan dari almarhum Abdulmanap, dan tentu saja, 'penerus takhta' Khabib di divisi kelas ringan. Islam juga sudah membuktikan diri sebagai juara sejati, bahkan sudah beberapa kali berhasil mempertahankan sabuknya dengan penampilan yang dominan, mengingatkan kita pada gaya bertarung sang guru.
Nah, yang bikin heboh belakangan ini adalah rencana Islam Makhachev. Dia dikabarkan punya ambisi besar untuk menantang juara kelas welter saat ini, Jack Della Maddalena, yang sedang naik daun dengan rekor impresifnya. Ini nih, yang membuat pertanyaan lama tentang Khabib kembali mengemuka. Jika Islam, sang murid, berani melangkah ke wilayah 170 pon, mengapa Khabib, sang guru yang punya rekor sempurna, justru tidak pernah melakukannya?
Ini seperti sebuah ironi, bukan? Sang murid berani mencoba jalan yang tidak dilalui sang guru. Apa yang membuat Khabib menahan diri? Apakah memang ada alasan kuat di baliknya, atau hanya soal pilihan karier semata?
Pertanyaan ini menggelitik banyak pihak, dan baru-baru ini, seorang petarung yang cukup vokal di kelas welter, Joaquin Buckley, mencoba memberikan jawaban. Dan jawabannya itu, jujur saja, lumayan bikin dahi berkerut sekaligus tersenyum simpul. Ini bukan analisis teknis yang rumit, bukan soal statistik, tapi sesuatu yang... agak unik.
Buckley ini kebetulan akan jadi bintang utama, main event, di UFC Atlanta dalam waktu dekat, jadi suaranya cukup diperhitungkan di divisi tersebut.
Saat Buckley diundang untuk ngobrol-ngobrol santai di channel YouTube milik legenda MMA lainnya, Demetrious Johnson – yang dikenal dengan julukan 'Mighty Mouse' dan punya pemahaman mendalam soal seluk beluk olahraga ini – topik obrolan akhirnya merembet ke soal Islam Makhachev dan potensinya di kelas welter. Buckley sempat mengungkapkan keraguannya soal langkah Islam ini. Dia tampaknya lebih suka melihat Islam pensiun sebagai juara kelas ringan saja, mengingat betapa ganasnya persaingan di kelas welter saat ini. Divisi ini penuh dengan 'monster' dengan berbagai gaya, dari striker elite sampai grappler kuat, dan ukuran fisiknya jelas berbeda dengan kelas ringan.
Tapi, dari Islam, obrolan beralih ke Khabib. Dan di sinilah 'teori' yang menarik itu muncul.
Buckley, dengan gaya bicaranya yang ceplas-ceplos, tiba-tiba melontarkan sesuatu yang bikin Demetrious Johnson langsung tergelak. Itu bukan analisis mendalam soal gaya bertarung atau strategi, melainkan soal fisik Khabib.
"Namun, Khabib memang cerdas," ujar Buckley, sambil tersenyum atau mungkin sedikit tertawa, mengutip ucapannya dari tayangan di channel YouTube Demetrious Johnson yang kemudian banyak diberitakan, salah satunya oleh Bloody Elbow. "Dia tahu dia tidak bisa menghadapi orang seberat 170 pon."
Oke, ini pernyataan yang cukup berani. Mengatakan juara tak terkalahkan seperti Khabib 'tidak bisa menghadapi' petarung di kelas lain. Tapi alasan yang Buckley berikan itu yang bikin unik.
Alasannya?
"Lengannya terlalu pendek!"
Hah? Lengan pendek? Demetrious Johnson, yang mendengarnya, langsung tertawa terbahak-bahak. Respons yang wajar, karena ini bukan alasan teknis yang biasa kita dengar dari seorang petarung profesional. Biasanya analisis itu soal power, soal gulat, soal striking, soal daya tahan. Tapi, 'lengan pendek'?
Buckley melanjutkan, seolah memperkuat argumennya yang tak biasa itu, "Dia tidak bisa menyerang siapa pun. Jadi dengan itu, saya sangat menghormati Islam karena benar-benar naik kelas, naik kelas, benar-benar ingin menantang diri sendiri."
Pernyataan Buckley ini, meskipun terdengar seperti lelucon, sebenarnya menyentuh aspek penting dalam pertarungan, terutama dalam striking: jangkauan lengan, atau 'reach'. Ini adalah ukuran dari ujung jari satu tangan ke ujung jari tangan lainnya saat kedua lengan direntangkan ke samping. Dalam pertarungan jarak, terutama adu striking, jangkauan yang lebih panjang memberikan keuntungan signifikan.
Sebagai gambaran, mari kita lihat angkanya. Jangkauan lengan Khabib Nurmagomedov itu tercatat 70 inci. Angka ini, untuk ukuran petarung kelas ringan, memang bisa dibilang tidak terlalu panjang. Sementara itu, Joaquin Buckley sendiri, yang adalah petarung kelas welter, punya jangkauan 76 inci. Ada selisih 6 inci di sana. Enam inci itu, di dalam segi empat oktagon, bisa berarti perbedaan antara pukulan yang masuk dan pukulan yang hanya mengenai udara, antara bisa menjaga jarak aman dan terpaksa terlibat dalam jarak rapat yang berbahaya.
Jadi, 'teori lengan pendek' versi Buckley ini, meskipun disampaikan dengan gaya yang santai dan mengundang tawa, seolah ingin bilang bahwa di kelas welter, di mana ukuran fisik dan jangkauan petarung cenderung lebih besar daripada kelas ringan, Khabib mungkin akan kesulitan dalam aspek striking karena jangkauannya yang terbatas dibandingkan lawan-lawannya yang lebih besar dan lebih panjang.
Ini bisa jadi poin penting loh. Bayangkan, di kelas ringan saja, beberapa lawan Khabib sudah punya jangkauan yang sama atau bahkan lebih panjang darinya. Di kelas welter, rata-rata jangkauan petarungnya akan jauh lebih besar. Bagaimana Khabib, yang memang lebih mengandalkan gulatnya, akan bisa mendekati lawan-lawan yang punya jangkauan panjang dan mungkin juga pukulan yang lebih kuat di kelas tersebut? Buckley tampaknya melihat ini sebagai kelemahan fundamental yang membuat Khabib enggan, atau merasa tidak mampu, bersaing di divisi 170 pon.
Tentu saja, ini hanya satu sudut pandang, satu 'teori' dari seorang petarung di kelas welter. Khabib sendiri tidak pernah secara eksplisit mengatakan 'saya tidak naik kelas karena lengan saya pendek'. Alasan resminya pensiun adalah janjinya pada ibunda. Tapi spekulasi ini, yang datang dari petarung aktif, memberikan bumbu tersendiri dalam diskusi mengapa Khabib tidak pernah pindah kelas.
Buckley juga menambahkan, terlepas dari analisis (atau lelucon?) soal lengan pendek Khabib, dia sangat menghormati Islam Makhachev karena berani mengambil tantangan untuk naik kelas. Itu menunjukkan keberanian dan keinginan untuk menguji diri di level yang lebih tinggi dan dengan tantangan fisik yang berbeda.
Ini kontras banget, kan? Sang guru dibilang 'tidak bisa' karena alasan fisik, sementara sang murid dipuji karena keberaniannya menghadapi tantangan fisik yang lebih besar.
Misteri seputar Khabib dan kelas welter ini memang selalu menarik. Dia adalah grappler paling dominan di masanya, dan banyak yang bertanya-tanya apakah gulatnya yang super kuat itu bisa tetap efektif melawan petarung yang lebih besar dan lebih kuat di kelas welter. 'Teori lengan pendek' dari Buckley ini menambahkan dimensi baru, mungkin sedikit lucu, tapi tetap relevan dalam konteks pertarungan berdiri.
Lengan pendek vs. jangkauan panjang. Dalam striking, jangkauan yang superior memungkinkan petarung untuk memukul lawan tanpa terjangkau, atau setidaknya meminimalisir risiko terkena serangan balasan. Petarung dengan jangkauan pendek seringkali harus rela masuk ke 'zona bahaya' lawan untuk bisa mendaratkan pukulan mereka. Di kelas welter, di mana banyak petarung punya pukulan KO, masuk ke zona bahaya itu bisa sangat, sangat berisiko.
Apakah ini yang ada di pikiran Khabib, secara sadar atau tidak? Apakah dia dan timnya, termasuk almarhum Abdulmanap, menganalisis bahwa keuntungan fisiknya (terutama kekuatan dan gulat) di kelas ringan tidak akan sebesar itu di kelas welter, dan kekurangan fisik lainnya, seperti jangkauan yang relatif pendek, akan menjadi beban yang terlalu berat? Bisa jadi. Analisis mendalam soal kekuatan dan kelemahan, serta perbandingan dengan potensi lawan, adalah bagian tak terpisahkan dari strategi tim juara.
Mereka mungkin melihat bahwa di kelas ringan, meskipun harus berjuang keras memotong berat badan, keuntungan gulat Khabib dan tekanan yang ia berikan di atas kanvas lebih dari cukup untuk mengalahkan lawan-lawannya. Di kelas welter, perimbangan kekuatan mungkin akan berubah.
Tapi, ini semua tetap spekulasi, yang diperkuat oleh 'teori' unik dari Buckley. Kita tidak punya konfirmasi langsung dari Khabib sendiri mengenai pertimbangan-pertimbangan teknis atau fisik yang membuatnya tidak pernah naik ke 170 pon.
Namun, yang membuat kisah Khabib dan kelas welter ini semakin menarik adalah adanya fakta lain di masa lalu yang sering terlupakan. Sebelum pertarungan sengitnya melawan Edson Barboza di UFC 219 pada Desember 2017, Khabib pernah melontarkan pernyataan yang tidak kalah mengejutkan. Di tengah persiapan yang intensif untuk pertarungan di kelas ringan tersebut, Khabib, di depan para jurnalis yang mendengarkan dengan seksama, tiba-tiba menyebutkan kemungkinan... turun ke divisi kelas bulu! Ya, Anda tidak salah dengar, kelas bulu, 145 pon, yang berada satu divisi *di bawah* kelas ringannya.
Ini kan aneh bin ajaib, kan? Di satu sisi, dia berjuang mati-matian memotong berat badan ke 155 pon, bahkan beberapa kali nyaris gagal. Di sisi lain, dia justru mengeluarkan ide untuk memotong berat badan *lebih banyak lagi* ke 145 pon. Ini seperti mencoba melompat dari jurang yang sudah dalam ke jurang yang lebih dalam lagi!
Pernyataan itu saat itu langsung memicu keheranan besar. Para jurnalis mungkin berpikir, "Seriusan? Bagaimana mungkin? Bukannya kamu sudah kesulitan di 155?" Khabib memang terkenal dengan pola pikirnya yang unik dan terkadang tak terduga, tapi opsi turun ke 145 pon, mengingat sejarah perjuangannya dengan berat badan, terasa seperti sesuatu yang mustahil.
Mengapa dia mengatakan itu? Apakah itu sebuah lelucon? Sebuah strategi untuk mengalihkan perhatian? Atau memang ada pikiran, meskipun sekilas, di benaknya untuk mencoba tantangan yang ekstrem lainnya? Kita mungkin tidak akan pernah tahu pasti motivasi di balik pernyataan itu. Yang jelas, ide itu tidak pernah terealisasi. Khabib tetap bertarung di kelas ringan, mengalahkan Barboza dengan penampilan dominan, dan terus melaju hingga meraih gelar juara dan pensiun.
Tapi, fakta bahwa dia pernah melirik kelas bulu, bahkan hanya sekadar ucapan iseng atau pemikiran sepintas, memberikan kontras yang tajam dengan ketidakberaniannya (atau ketidakminatannya, entahlah) terhadap kelas welter. Mengapa tantangan memotong berat badan yang *lebih sulit* sempat terlintas di benaknya, sementara tantangan naik kelas yang dari sisi pemotongan berat badan akan *lebih mudah* justru tidak pernah ia ambil?
Apakah ini soal tantangan teknis? Mungkin Khabib merasa gaya gulatnya akan sangat efektif melawan petarung kelas bulu yang notabene lebih kecil, sementara melawan petarung welter yang lebih besar, kuat, dan jangkauannya lebih panjang, ia merasa keunggulannya tidak akan sebesar itu? Teori 'lengan pendek' dari Buckley seolah mendukung argumen ini.
Atau mungkin, Khabib hanya ingin pensiun sebagai petarung kelas ringan terhebat sepanjang masa. Ia sudah mencapai puncak di divisi tersebut, mengalahkan semua penantang utama. Mungkin ia merasa tidak perlu lagi membuktikan diri di divisi lain. Warisan 29-0 di kelas ringan sudah cukup baginya.
Pilihan karier seorang atlet profesional memang kompleks. Ada banyak faktor yang bermain: kondisi fisik, strategi tim, keinginan pribadi, kesempatan yang datang, dan tentu saja, risiko. Bagi Khabib, mungkin risiko dan ketidakpastian di kelas welter terasa lebih besar dibandingkan potensi imbalannya, atau mungkin dia hanya tidak punya keinginan kuat untuk berpetualang ke divisi itu.
Joaquin Buckley, dengan komentarnya yang jenaka namun menusuk, memberikan salah satu penjelasan yang paling unik sejauh ini. Apakah lengan pendek Khabib benar-benar faktor penentu? Mungkin tidak 100%, tapi di dunia di mana setiap inci dan setiap pon diperhitungkan, jangkauan yang relatif pendek memang bisa menjadi kelemahan, terutama ketika menghadapi petarung-petarung kelas welter yang punya atribut fisik yang mumpuni.
Kisah Khabib Nurmagomedov memang legendaris. Rekor 29-0-nya akan selalu terukir dalam sejarah MMA. Dia menguasai kelas ringan dengan cara yang belum pernah kita lihat sebelumnya. Namun, babak kelas welter yang tidak pernah ia buka, ditambah dengan 'teori lengan pendek' dari Buckley dan kilas balik soal ide anehnya untuk turun ke kelas bulu, akan selalu menjadi catatan kaki yang menarik dalam diskusi tentang kariernya yang gemilang.
Sementara itu, kita akan menyaksikan Islam Makhachev mencoba menulis babak baru dalam sejarah keluarganya dan timnya dengan potensial menantang raja di divisi 170 pon. Langkah Islam ini, terlepas dari hasilnya, akan secara tidak langsung menjawab beberapa pertanyaan yang menggantung tentang kemampuan tim mereka menghadapi tantangan di kelas yang lebih berat, sesuatu yang gurunya, Khabib, pilih untuk tidak lakukan.
Jadi, guys, itulah dia. Misteri Khabib di kelas welter, dipermanis dengan 'teori lengan pendek' yang menggelitik dari Joaquin Buckley. Sebuah pengingat bahwa bahkan dalam karier yang sempurna, selalu ada 'apa jadinya jika' yang membuat kita terus berdiskusi. Dan mungkin, terkadang, alasannya bisa sesederhana (atau serumit) jangkauan lengan.
Komentar
Posting Komentar