Langsung ke konten utama

9 Momen KekhilafanTerburuk dalam Sejarah Manusia, dari Titanic hingga Chernobyl

**Ketika Kesalahan Kecil Mengubah Jalur Sejarah: Pelajaran Pahit dari Masa Lalu** Sejarah... ah, sejarah. Penuh cerita kemenangan gemilang, momen-momen heroik yang bikin dada bangga dan inspirasi meluap-luap. Kita bicara tentang penemuan-penemuan besar yang mengubah dunia, revolusi yang membebaskan jutaan orang, atau pertempuran-pertempuran di mana keberanian mengalahkan segala rintangan. Ya, sejarah memang seringkali menampilkan sisi terbaik dari peradaban manusia. Tapi di sisi lain? Sejarah juga punya 'koleksi' momen-momen yang bikin geleng-geleng kepala. Momen yang, kalau dipikir-pikir lagi, kok ya bisa begitu? Momen yang cuma bisa kita sebut sebagai *kesalahan fatal*. Bukan cuma salah ketik atau salah parkir, ini kesalahan yang dampaknya... wow, menghancurkan. Kerugiannya bukan cuma angka di laporan keuangan, tapi seringkali melibatkan nyawa manusia yang tak terhitung, ekonomi yang lumpuh, atau hilangnya kejayaan yang sudah dibangun berabad-abad. Kenapa sih kesalahan-kesalahan sebesar ini bisa terjadi? Macam-macam faktornya. Kadang cuma gara-gara rasa takut yang berlebihan di saat krusial. Kadang karena kelalaian yang sepele, yang kalau dipikir-pikir mestinya enggak terjadi. Ada juga momen di mana kejadian tak terduga datang di waktu yang paling salah. Eh, enggak jarang juga lho, minuman keras ikut campur tangan bikin keputusan jadi kacau balau. Nah, kita mau bedah nih, beberapa momen 'konyol' tapi berakibat luar biasa parah dalam sejarah manusia, yang diambil dari catatan World Atlas. Siap-siap terkejut, karena ternyata, satu 'salah langkah' bisa benar-benar mengubah segalanya. Mari kita mulai perjalanan kembali ke masa lalu, melihat langsung bagaimana keputusan atau kelalaian yang sepele bisa memicu bencana besar. ## **Tragedi Gerbang Kerkoporta: Kunci Tertinggal, Kota Pun Jatuh** Bayangkan sebuah kota dengan tembok pertahanan yang legendaris, yang disebut-sebut nyaris enggak bisa ditembus. Konstantinopel namanya, ibu kota baru Kekaisaran Romawi saat itu. Tembok-tembok batu yang kokoh mengelilingi kota, tujuannya cuma satu: melindungi warganya dari ancaman luar. Saking kuatnya tembok ini, penduduk Konstantinopel merasa super aman, nyaris kebal dari serangan siapa pun. Mereka yakin, siapa pun yang coba-coba menyerang, pasti bakal mentok di tembok itu. Tapi kemudian, di bulan Mei 1453, kota megah ini menghadapi kenyataan pahit: mereka dikepung oleh pasukan Ottoman yang kuat. Ketegangan memuncak, setiap detail jadi penting. Pertahanan harus sempurna. Nah, di tengah situasi hidup mati itu... entah gimana ceritanya, ada satu penjaga yang, di malam hari, *lupa* mengunci salah satu gerbang kecil di tembok dalam kota. Gerbang Kerkoporta namanya. Cuma gerbang kecil lho, dan cuma enggak terkunci semalaman. Kedengarannya sepele banget, kan? Tapi tunggu dampaknya. Pasukan Ottoman yang lagi mengepung, ternyata jeli. Mereka sadar ada yang aneh di gerbang itu. Menyadari ada 'hadiah' tak terduga ini, sekitar lima puluh tentara Ottoman langsung nyelinap masuk. Dengan senyap, mereka melewati gerbang yang enggak terkunci itu. Apa yang mereka lakukan setelah berhasil masuk? Mereka enggak buang waktu. Mereka menyerang para penjaga yang ada di sekitar situ, dan yang paling krusial, mereka berhasil mengibarkan panji mereka di atas tembok bagian dalam. Melihat panji musuh berkibar di dalam tembok yang katanya enggak bisa ditembus? Bayangkan apa yang terjadi pada moral tentara dan penduduk Romawi di dalam kota. Panik! Kepanikan ini menyebar secepat api di musim kering. Keyakinan bahwa mereka aman, bahwa tembok mereka tak tertembus, langsung runtuh seketika. Moral mereka anjlok drastis. Kehilangan moral di tengah pengepungan itu fatal banget. Pertahanan yang sebelumnya kokoh jadi rapuh. Tentara bingung, penduduk takut. Kekacauan terjadi di mana-mana. Dan dampaknya? Ini yang paling menyakitkan: kepanikan massal itu berkontribusi besar pada hilangnya kekuatan pertahanan, yang akhirnya *benar-benar* menyebabkan jatuhnya kota besar Konstantinopel ke tangan Ottoman. Cuma gara-gara sebuah kunci yang lupa dikunci semalaman? Atau lebih tepatnya, sebuah kelalaian kecil di momen paling krusial dalam sejarah kota itu. Gerbang Kerkoporta yang enggak terkunci bukan satu-satunya faktor jatuhnya Konstantinopel, tapi jelas jadi momen pembuka yang menghancurkan moral dan memicu keruntuhan pertahanan. Sungguh pelajaran pahit tentang betapa pentingnya detail terkecil, terutama di saat-saat genting. ## **Menghancurkan Kejayaan Sendiri: Kisah Armada Harta Karun China yang Sengaja Dilenyapkan** Geser pandangan kita ke timur, ke Kekaisaran China di abad ke-15. Ini adalah era keemasan bagi China dalam hal pelayaran dan perdagangan internasional. Mereka punya sesuatu yang bikin bangsa-bangsa lain iri: sebuah armada laut yang luar biasa canggih dan masif, namanya Armada Harta Karun. Armada ini bukan cuma kapal-kapal biasa. Di puncaknya, sekitar abad ke-15 itu, Armada Harta Karun China terdiri dari... tahan napas... 3.500 kapal! Angka itu gila banget, apalagi kalau dibandingkan dengan armada laut bangsa Eropa saat itu. Satu kapal di armada ini, ukurannya kira-kira lima kali lebih besar dari kapal Eropa mana pun waktu itu. Bayangkan kekuatan dan potensi maritim yang mereka miliki! Berkat armada inilah, China menikmati manfaat luar biasa dari perjalanan jauh dan perdagangan dengan berbagai penjuru dunia. Mereka punya pengaruh global yang kuat, didukung oleh kekuatan laut yang tak tertandingi. Nah, di sinilah mulai aneh. Di tengah kejayaan maritim dan ekonomi yang melesat berkat perdagangan ini, ada faksi di dalam negeri yang mulai enggak nyaman. Siapa mereka? Para elit politik di istana. Mereka melihat ada sesuatu yang mengkhawatirkan di balik kesuksesan ini. Apa itu? Kebangkitan kelas pedagang. Gara-gara perdagangan internasional berkembang pesat, para pedagang ini jadi kaya raya, punya pengaruh yang makin besar di masyarakat. Para elit politik yang konservatif ini rupanya *khawatir* kekuasaan mereka tergerus oleh naiknya pengaruh kelas pedagang ini. Mereka melihat kesuksesan Armada Harta Karun dan perdagangan internasional sebagai ancaman terhadap tatanan tradisional dan dominasi politik mereka. Daripada mencari cara untuk mengintegrasikan atau mengontrol kelas pedagang yang berkembang ini, para elit ini mengambil keputusan yang... ya, bisa dibilang *aneh* dan *merusak diri sendiri*. Atas perintah mereka, pemerintah Tiongkok mengeluarkan kebijakan yang drastis. Mereka *memerintahkan* pembakaran sebagian besar kapal-kapal di Armada Harta Karun! Bayangkan, armada yang jadi tulang punggung kejayaan maritim dan ekonomi mereka, sumber pengaruh global mereka, justru dihancurkan dengan sengaja oleh pemimpin mereka sendiri. Bukan karena kalah perang, bukan karena badai, tapi karena *perhitungan politik internal* yang sempit. Sisanya? Kapal-kapal yang enggak dibakar, dibiarkan gitu aja. Enggak dipakai, enggak dirawat. Dibiarkan membusuk karena kurangnya penggunaan dan perawatan. Perlahan tapi pasti, armada yang tadinya super kuat itu lenyap. Sampai akhirnya, di tahun 1525, seluruh Armada Harta Karun telah hancur. Benar-benar musnah. Armada yang sebelumnya jadi simbol kekuatan dan konektivitas China dengan dunia, kini tinggal cerita. Dampaknya ke China? Langsung terasa. Ekonomi Tiongkok yang tadinya melesat berkat perdagangan internasional, segera lumpuh. Kemampuan mereka untuk berlayar jauh, berdagang, dan memproyeksikan kekuatan ke luar negeri hilang. Pengaruh global mereka berkurang drastis. China yang tadinya ada di puncak, tiba-tiba menarik diri dari panggung maritim dunia. Dan tahu siapa yang mengisi kekosongan ini? Eropa! Saat China dengan sengaja menghancurkan armada mereka dan menutup diri, bangsa-bangsa Eropa justru sedang gencar-gencarnya melakukan penjelajahan dan mengembangkan kekuatan maritim mereka. Kehancuran Armada Harta Karun China ini justru membuka jalan lapang bagi Eropa untuk muncul sebagai pusat kekuatan ekonomi dan teknologi dunia, mendominasi jalur perdagangan global selama berabad-abad setelahnya. Sungguh ironis. Sebuah kekaisaran raksasa, dengan sengaja melucuti kekuatan terbesarnya sendiri, hanya karena ketakutan politik internal. Ini bukan kesalahan karena lalai, tapi kesalahan yang disengaja, berdasarkan motivasi yang salah kaprah, dan berakibat pada hilangnya kejayaan dan dominasi global yang sudah digenggam. ## **Karánsebes yang Konyol: Pertempuran Teraneh Gara-gara Minuman Keras dan Salah Paham** Oke, pindah lagi ke Eropa, tapi kali ini di penghujung abad ke-18, tepatnya tahun 1788. Ada perang yang lagi berkecamuk antara Kekaisaran Austria dan Kekaisaran Ottoman, dikenal sebagai Perang Austria-Turki. Di bulan September tahun itu, kedua pasukan sedang bersiap untuk bertempur memperebutkan sebuah tempat namanya Karánsebes (sekarang masuk wilayah Rumania). Situasinya tegang. Pasukan Austria berkumpul, menunggu momen untuk menyerang atau bertahan. Di malam hari, di tengah kegelapan, sekelompok pengintai Austria dikirim untuk berpatroli di pinggiran kota, mencari tanda-tanda keberadaan musuh. Nah, nasib buruk... atau mungkin lebih tepatnya, *takdir konyol*? Di tengah patroli mereka, sekelompok pengintai ini bertemu dengan beberapa pelancong. Dan para pelancong ini, entah kenapa, nawarin minuman keras. Namanya juga prajurit, mungkin lelah, mungkin cuaca dingin, mereka terima tawaran itu dan mulai menenggak minuman. Enggak lama, lewat sekelompok prajurit infanteri Austria lainnya. Mereka melihat pengintai-pengintai ini lagi 'pesta' minuman di kegelapan. Tentu saja, mereka minta dibagi dong minuman itu. Tapi si pengintai yang udah agak mabuk ini... nolak! Bayangkan, di tengah suasana perang, di malam hari, di wilayah musuh... pecah cekcok. Gara-gara apa? Cuma gara-gara minuman keras! Perkelahian kecil pun terjadi antara sesama prajurit Austria di kegelapan malam itu. Apa yang terjadi di markas utama pasukan Austria yang ada di dekat situ? Mereka mendengar keributan di kejauhan. Di tengah ketegangan perang, pikiran pertama yang muncul adalah: ini pasti tentara Turki yang nyerang! Mereka *yakin* seratus persen bahwa suara ribut itu adalah serangan musuh. Sementara itu, si pengintai yang tadi cekcok, dalam keadaan panik dan mungkin masih di bawah pengaruh alkohol, balik ke arah markas... sambil teriak-teriak kencang. Teriakan apa? "Turki! Turki!" Di dalam kegelapan total, tentara Austria di markas mendengar teriakan 'Turki!' dan melihat ada pergerakan di kejauhan (yaitu sesama pengintai dan infanteri Austria yang lagi ribut). Dengan keyakinan penuh bahwa mereka sedang diserang oleh musuh bebuyutan, dan diperparah oleh kebingungan di malam hari serta teriakan panik tadi, tentara Austria di markas *membalas tembakan*. Mereka menembaki sumber suara dan pergerakan itu. Siapa yang mereka tembak? Sesama prajurit Austria! Pengintai-pengintai yang tadi cekcok, infanteri yang mau minta minuman, dan siapa pun yang ada di sekitar situ dalam kegelapan, semuanya dianggap musuh. Kepanikan menyebar, kesalahpahaman merajalela. Di tengah kekacauan, bahkan ada perwira yang mencoba memberi perintah dalam bahasa yang berbeda-beda (Austria multi-etnis), yang malah menambah kebingungan prajurit. Apa yang terjadi selanjutnya? *Pembantaian sesama* dalam skala besar. Tentara Austria saling tembak, saling bunuh, di malam hari yang gelap itu. Mereka bertempur dengan gagah berani... melawan bayangan musuh, yang ternyata adalah saudara seperjuangan mereka sendiri. Sampai pagi menjelang, matahari terbit dan menyinari medan pertempuran... pemandangan yang terlihat sangat mengenaskan. Coba tebak berapa korban dari pihak Austria sendiri dalam 'pertempuran' yang konyol ini? Sekitar 10.000 prajurit tewas! Ribuan nyawa melayang, bukan karena tembakan musuh, tapi karena salah paham, panik, kegelapan, dan diawali gara-gara cekcok minuman keras. Dua hari kemudian, tentara Turki yang asli *beneran* datang ke Karánsebes. Mereka enggak perlu susah-susah menyerang. Mereka menemukan tentara Austria dalam kondisi yang... ya ampun. Moral hancur, kacau balau, ribuan prajurit tewas gara-gara 'perang' internal mereka sendiri. Pasukan Austria yang tersisa sudah terlalu lelah, terlalu terkejut, dan terlalu depresi untuk bertempur secara efektif. Hasilnya? Tentara Turki ngerebut Karánsebes dengan sangat mudah. Sebuah kemenangan besar diraih musuh, bukan karena kehebatan strategi mereka, tapi karena *kebodohan* luar biasa yang dilakukan oleh pihak Austria sendiri. Pertempuran Karánsebes dikenang sebagai salah satu insiden paling absurd dan tragis dalam sejarah militer, bukti nyata bagaimana salah paham, kepanikan, dan sedikit 'bumbu' alkohol bisa berujung pada bencana yang memakan ribuan korban jiwa. ## **Alaska: 'Kesalahan' Rusia yang Jadi 'Durian Runtuh' Amerika** Kita lompat ke tahun 1867. Latar belakangnya: Kekaisaran Rusia lagi enggak baik-baik aja secara ekonomi. Mereka baru saja menelan kekalahan di Perang Krimea, yang bikin kondisi finansial negara terpuruk. Di tengah kesulitan itu, mereka punya wilayah yang sangat luas nun jauh di sana, di Amerika Utara, yaitu Alaska. Alaska saat itu memang belum jadi negara bagian AS. Statusnya adalah wilayah Rusia. Menariknya, meskipun terpencil, wilayah Alaska ini ternyata cukup penting sebagai pusat perdagangan internasional. Banyak aktivitas niaga terjadi di sana. Tapi Rusia lagi lemah. Tsar Alexander II, penguasa Rusia saat itu, dilanda kekhawatiran besar. Dia khawatir kalau-kalau Inggris, saingan berat Rusia di panggung global, melihat kondisi Rusia yang lagi lemah ini sebagai kesempatan emas. Kesempatan apa? Kesempatan untuk mengambil keuntungan, bahkan mungkin merebut Alaska secara paksa. Daripada pusing mikirin cara mempertahankan Alaska dari kemungkinan invasi Inggris, Tsar Alexander II mengambil langkah yang drastis dan, bagi sebagian orang, terlihat aneh saat itu: dia memutuskan untuk *menjual* wilayah Alaska. Dijual ke siapa? Ke Amerika Serikat. Amerika Serikat saat itu juga masih dalam tahap pembangunan dan ekspansi ke barat. Tawaran membeli wilayah seluas itu mungkin terdengar gila bagi sebagian orang Amerika juga. Alaska saat itu sering digambarkan sebagai 'bongkahan es' yang dingin dan enggak berguna. Tapi kesepakatan terjadi. Rusia menjual Alaska ke Amerika Serikat dengan harga... coba tebak... cuma USD 7,2 juta! Kedengarannya angka besar ya? Tapi kalau disesuaikan dengan nilai uang saat ini, kira-kira setara dengan USD 125 juta. Untuk wilayah seluas Alaska? Itu harga yang *sangat* murah, bahkan bisa dibilang diskon besar-besaran. Bagi Rusia, mungkin saat itu penjualan ini terasa seperti langkah strategis terbaik. Daripada pusing mempertahankan wilayah yang jauh di tengah kondisi ekonomi yang lagi hancur dan ancaman Inggris, lebih baik dilepas aja dan dapat dana segar. Mungkin mereka berpikir USD 7,2 juta itu sudah lumayan untuk 'bongkahan es' itu. Tapi lihat apa yang terjadi setelahnya. Bagi Amerika Serikat, pembelian Alaska ini ternyata jadi *kesepakatan abad ini*! Mereka membeli wilayah yang sangat luas, kaya sumber daya alam melimpah (emas, minyak, mineral, hutan, perikanan), dan punya posisi geopolitik yang sangat strategis, terutama di era modern. Nilai Alaska jauh melampaui harga pembeliannya. Seiring berjalannya waktu, semakin jelas bahwa keputusan Rusia untuk menjual Alaska, meskipun didorong oleh ketakutan dan kebutuhan finansial mendesak, ternyata adalah sebuah 'kesalahan' yang sangat merugikan mereka dalam jangka panjang. Mereka melepaskan aset berharga dengan harga yang sangat murah, membuka jalan bagi Amerika Serikat untuk memperluas wilayahnya dan mendapatkan sumber daya serta posisi strategis yang luar biasa. Jadi, 'Pembelian Alaska' ini bisa dilihat dari dua sisi: bagi Rusia, ini adalah keputusan yang dibuat di bawah tekanan dan ketakutan yang berujung pada hilangnya wilayah berharga dengan harga murah. Bagi Amerika Serikat, ini adalah akuisisi brilian yang didapat gara-gara 'kesalahan' pihak lain. Sebuah momen dalam sejarah di mana ketakutan di satu sisi berujung pada 'durian runtuh' di sisi lain. *** Nah, itu dia empat cerita dari sekian banyak momen dalam sejarah di mana keputusan, kelalaian, atau bahkan insiden konyol yang sepele, bisa punya efek bola salju yang menghancurkan dan mengubah jalur sejarah dunia. Kita sudah lihat bagaimana kunci yang lupa dikunci bisa berujung pada jatuhnya sebuah kekaisaran. Bagaimana ketakutan politik internal menghancurkan armada laut terkuat di dunia. Bagaimana salah paham, panik, dan alkohol bisa membuat ribuan prajurit saling bunuh. Dan bagaimana ketakutan akan invasi bisa membuat sebuah negara menjual aset berharganya dengan harga murah. Ini semua adalah pengingat bahwa sejarah itu rapuh. Bahwa keputusan yang terlihat kecil di momen krusial bisa punya konsekuensi raksasa. Dan bahwa kesalahan manusia, dalam segala bentuknya – ketakutan, kelalaian, kebingungan, keserakahan, bahkan kebodohan – memang bagian tak terpisahkan dari perjalanan peradaban kita. Mempelajari kesalahan-kesalahan ini bukan untuk menghakimi masa lalu, tapi untuk mengambil pelajaran. Agar kita bisa lebih waspada, lebih bijak dalam mengambil keputusan, dan mungkin... sedikit lebih hati-hati saat ada minuman keras di dekat situasi yang tegang.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Silfester Matutina Tuding Ada Bohir di Balik Desakan Pemakzulan Gibran

Berikut adalah artikel yang Anda minta, dalam gaya Anderson Cooper yang informal dan menarik, siap untuk dipublikasikan: Skandal Bohir Pemakzulan Gibran: Siapa Dalang di Balik Layar? Skandal Bohir Pemakzulan Gibran: Siapa Dalang di Balik Layar? Anda tahu, di dunia politik, seringkali ada drama yang tersaji di depan mata kita. Tapi, pernahkah Anda berpikir, apa yang sebenarnya terjadi di balik panggung? Siapa yang menarik tali, siapa yang memegang kendali? Pertanyaan-pertanyaan semacam inilah yang tiba-tiba menyeruak ke permukaan, mencuat dari sebuah pengakuan yang cukup mengejutkan. Ini bukan sekadar desas-desus, ini adalah tudingan serius yang dilemparkan langsung oleh salah satu tokoh di barisan pendukung capres-cawapres yang baru saja memenangkan kontestasi, Bapak Silfester Matutina. Silfester Matutina, Ketua Umum Solidaritas Merah Putih (Solmet), baru-baru ini membuat pernyataan yang bisa dibilang mengguncang jagat politik...

Khotbah Jumat Pertama Dzulhijjah : Keutamaan 10 Hari Awal Bulan Haji

Khotbah Jumat kali ini mengangkat tema keutamaan 10 hari pertama bulan Dzulhijjah. Dan hari ini merupakan Jumat pertama di Bulan Haji tersebut bertepatan dengan tanggal 30 Mei 2025. Berikut materi Khotbah Jumat Dzulhijjah disampaikan KH Bukhori Sail Attahiry dilansir dari website resmi Masjid Istiqlal Jakarta. Khutbah ini bisa dijadikan materi dan referensi bagi khatib maupun Dai yang hendak menyampaikan khotbah Jumat. Allah subhanahu wata'ala memberikan keutamaan pada waktu-waktu agung. Di antara waktu agung yang diberikan keutamaan oleh Allah adalah 10 hari pertama bulan Dzulhijjah . Keutamaan tersebut memberikan kesempatan kepada umat Islam agar memanfaatkannya untuk berlomba mendapatkan kebaikan, baik di dunia maupun di Akhirat. Hal ini dijelaskan melalui Hadis Nabi shallallahu 'alaihi wasallam berikut: Artinya: "Dari Jabir radhiyallahu 'anhu bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Sebaik-baiknya hari dunia adalah sepuluh...

KIKO Season 4 Episode THE CURATORS Bawa Petualangan Baru Kota Asri Masa Depan

JAKARTA - Menemani minggu pagi yang seru bersama keluarga, serial animasi KIKO Season Terbaru hadir di RCTI dengan membawa keseruan untuk dinikmati bersama di rumah. Hingga saat ini, KIKO telah meraih lima penghargaan bergengsi di tingkat nasional dan internasional dalam kategori anak-anak dan animasi. Serial ini juga telah didubbing ke dalam empat bahasa dan tayang di 64 negara melalui berbagai platform seperti Disney XD, Netflix, Vision+, RCTI+, ZooMoo Channel, dan Roku Channel. Musim terbaru ini menghadirkan kisah yang lebih segar dan inovatif, mempertegas komitmen MNC Animation dalam industri kreatif. Ibu Liliana Tanoesoedibjo menekankan bahwa selain menyajikan hiburan yang seru, KIKO juga mengandung nilai edukasi yang penting bagi anak-anak Indonesia. Berikut sinopsis episode terbaru KIKO minggu ini. Walikota menugaskan Kiko dkk untuk menyelidiki gedung bekas Galeri Seni karena diduga telah alih fungsi menjadi salah satu markas The Rebel. Kiko, Tingting, Poli, dan Pa...