Membongkar Skenario Terburuk: Saat Ketegangan Iran dan Israel Terancam Membakar Kawasan
Baiklah, mari kita bicara terus terang. Saat ini, pertempuran antara Israel dan Iran... ya, tampaknya memang terbatas. Terbatas hanya pada mereka berdua. Tapi, Anda tahu, di tengah situasi yang sepanas dan setegang ini, selalu ada pertanyaan besar yang menggantung di udara, pertanyaan yang terus menghantui para pengamat, para pembuat kebijakan, dan tentu saja, warga sipil di seluruh kawasan bahkan dunia. Pertanyaannya sederhana, tapi jawabannya bisa rumit dan mengerikan: Bagaimana jika seruan-seruan untuk meredakan ketegangan... seruan untuk menahan diri... tidak didengarkan? Bagaimana jika percikan api yang sudah ada ini... tidak padam... tapi justru membesar? Bagaimana jika pertempuran itu... bukan hanya meningkat intensitasnya... tapi juga meluas? Meluas melampaui batas-batas negara Israel dan Iran itu sendiri?
Ini adalah risiko yang nyata. Risiko yang dibicarakan dengan nada cemas di berbagai ibu kota. Ada kemungkinan-kemungkinan yang, jujur saja, membuat kita semua harus berhenti sejenak dan merenung. Kita tidak sedang bicara tentang kemungkinan terbaik di mana kedua pihak tiba-tiba berjabat tangan dan sepakat melupakan semuanya. Tidak. Kita sedang bicara tentang kemungkinan terburuk. Skenario-skenario yang bisa menarik lebih banyak pihak ke dalam pusaran konflik, mengubah peta kawasan, dan menciptakan krisis yang jauh lebih besar dari apa yang sudah kita lihat.
Mari kita bedah satu per satu, berdasarkan informasi yang ada, tiga skenario terburuk yang bisa terjadi jika ketegangan antara Iran dan Israel ini benar-benar lepas kendali dan meluas. Ini adalah jalur-jalur berbahaya yang, jika diambil, bisa mengubah wajah Timur Tengah untuk waktu yang sangat lama.
Ketika Amerika Serikat Terseret ke Dalam Pusaran
Oke, skenario pertama, dan ini mungkin yang paling sering dibicarakan, yang paling banyak menimbulkan kekhawatiran di tingkat global: Amerika Serikat terseret ke dalam konflik. Anda mungkin bertanya, bukankah AS sudah memberikan dukungan kepada Israel? Bukankah kapal-kapal perang mereka sudah ada di dekat kawasan itu? Ya, memang benar. Tapi ada perbedaan besar antara memberikan dukungan, bersiaga, atau membantu mencegat serangan, dengan menjadi *pihak yang diserang* secara langsung dan terseret masuk ke dalam pertempuran aktif.
Meskipun Amerika Serikat, dari Washington hingga kedutaan-kedutaan mereka di luar negeri, mati-matian menyangkal bahwa pasukan mereka secara langsung terlibat atau mendukung serangan spesifik Israel, satu hal yang jelas dari informasi yang ada: Iran *percaya* sebaliknya. Ya, Iran jelas *percaya* bahwa pasukan Amerika tidak hanya mendukung... tapi setidaknya *diam-diam mendukung* serangan-serangan Israel. Ini adalah poin krusial. Dalam geopolitik, apa yang Anda *percaya* bisa menjadi pemicu tindakan, terlepas dari apakah keyakinan itu 100% akurat atau tidak.
Jika Iran benar-benar memegang keyakinan kuat bahwa AS adalah bagian dari masalah, bahwa AS adalah pendukung aktif musuh mereka, apa langkah selanjutnya yang bisa mereka ambil? Nah, seperti disebutkan, Iran dapat menyerang target-target Amerika. Dan di mana target-target Amerika itu berada? Ternyata tersebar luas di seluruh Timur Tengah. Bayangkan peta kawasan itu... di mana saja ada kehadiran Amerika... itu bisa menjadi sasaran.
Artikel yang kita lihat ini menyebutkan beberapa contoh spesifik. Misalnya, kamp-kamp pasukan khusus AS di Irak. Ya, Irak! Negara yang baru saja pulih dari konflik berkepanjangan, masih rapuh. Ada kehadiran militer AS di sana. Jika Iran atau proksi-proksinya menyerang kamp-kamp ini, itu bukan hanya serangan terhadap aset militer. Itu adalah serangan terhadap personel Amerika, di wilayah negara berdaulat lainnya. Ini akan langsung menyeret AS ke dalam respons militer aktif.
Selain Irak, ada juga pangkalan-pangkalan militer di Teluk. Teluk Arab. Kawasan yang sangat strategis, jantung produksi energi global. Amerika Serikat memiliki pangkalan udara, pangkalan laut, dan fasilitas logistik yang signifikan di negara-negara Teluk. Pangkalan-pangkalan ini adalah pusat kekuatan militer AS di kawasan itu. Jika Iran menyerang pangkalan-pangkalan ini, entah dengan rudal, drone, atau melalui proksi mereka, dampaknya akan sangat, sangat serius. Ini bukan lagi "mendukung dari jauh". Ini adalah serangan langsung terhadap kedaulatan dan personel AS di luar negeri. Respons dari Washington hampir pasti akan keras dan langsung.
Dan jangan lupakan misi diplomatik. Kedutaan besar, konsulat, kantor-kantor perwakilan. Ini adalah simbol kehadiran dan pengaruh Amerika. Mereka seringkali menjadi target empuk bagi kelompok-kelompok yang ingin mengirim pesan atau menimbulkan kekacauan. Menyerang misi diplomatik bisa memicu krisis internasional yang lebih luas, bahkan di luar konteks militer. Ini adalah serangan terhadap perwakilan sipil negara, dan dampaknya secara politik dan keamanan sangat besar.
Jadi, skenario pertama ini berakar pada keyakinan Iran tentang peran AS dan keberadaan target-target AS yang tersebar. Jika Iran memutuskan untuk bertindak berdasarkan keyakinan itu, mereka punya banyak opsi untuk memukul kepentingan Amerika di seluruh kawasan. Serangan-serangan ini, jika terjadi, tidak bisa dianggap remeh. Ini bukan sekadar tembak-menembak perbatasan. Ini adalah serangan terhadap kekuatan global, yang memaksa kekuatan global itu untuk memilih: mundur atau merespons dengan kekuatan penuh. Mengingat postur dan kebijakan luar negeri AS, mundur dalam menghadapi serangan terhadap pasukannya sendiri bukanlah pilihan yang mungkin.
Dan ini dia poin penting lainnya yang disebutkan dalam artikel: pasukan proksi Iran. Kita sering mendengar tentang Hamas dan Hizbullah. Ya, kedua kelompok ini mungkin kekuatannya sedang jauh berkurang akibat konflik yang sedang berlangsung. Tapi Iran punya jaringan proksi yang lebih luas. Artikel ini secara spesifik menyebutkan milisi-milisi pendukung Iran di Irak. Dan poinnya adalah... *mereka tetap bersenjata dan utuh*. Coba pikirkan itu. Meskipun kelompok lain melemah, milisi di Irak ini masih punya kapasitas untuk bertindak. Mereka masih punya senjata. Mereka masih punya organisasi. Dan mereka beroperasi di negara di mana AS punya kehadiran militer. Jadi, serangan terhadap target AS di Irak bisa datang bukan hanya dari Iran secara langsung, tapi juga dari proksi-proksi mereka yang siap dan mampu bertindak. Ini menambah lapisan kerumitan dan bahaya pada skenario ini. Iran tidak perlu melakukannya sendiri. Mereka punya kaki tangan yang bisa diaktifkan, terutama di tempat-tempat seperti Irak di mana proksi-proksi itu sudah mengakar dan bersenjata.
Skenario pertama ini adalah tentang bagaimana konflik Iran-Israel bisa "menginfeksi" hubungan Iran dengan AS dan menyeret Washington dari peran pendukung menjadi pihak yang diserang. Ini adalah jalur cepat menuju eskalasi yang jauh lebih luas, melampaui batas-batas kawasan, dan melibatkan kekuatan militer yang jauh lebih besar. Keyakinan Iran tentang peran AS, ditambah keberadaan target-target AS yang rentan dan proksi-proksi Iran yang utuh di Irak, menciptakan resep berbahaya untuk penyeretan Amerika Serikat ke dalam pusaran konflik yang lebih dalam. Ini bukan lagi perang regional. Ini adalah perang yang mulai menarik kekuatan global ke dalamnya.
Dampaknya? Jelas. Peningkatan korban jiwa. Kerusakan infrastruktur militer dan sipil. Gangguan serius terhadap stabilitas regional. Potensi gangguan terhadap pasokan energi global. Dan tentu saja, peningkatan risiko konflik terbuka skala penuh antara AS dan Iran, dengan segala konsekuensinya yang tak terbayangkan. Skenario pertama ini adalah peringatan bahwa garis pemisah antara konflik regional dan konflik global bisa sangat tipis, terutama ketika keyakinan dan persepsi bermain peran besar dalam memicu tindakan.
Jadi, ketika kita bicara tentang skenario terburuk, penyeretan Amerika Serikat ke dalam pertempuran adalah salah satu yang paling mengkhawatirkan. Itu mengubah dinamika konflik secara fundamental, menambah kekuatan militer yang luar biasa ke dalam campuran yang sudah mudah meledak, dan meningkatkan taruhan untuk semua pihak yang terlibat.
Negara-negara Arab: Dari Penonton Menjadi Pemain?
Baiklah, mari kita beralih ke skenario terburuk kedua. Yang ini melibatkan negara-negara tetangga di kawasan itu sendiri, khususnya negara-negara Arab. Bagaimana mereka bisa terseret ke dalam konflik yang awalnya 'hanya' antara Iran dan Israel?
Begini logikanya, menurut analisis yang ada. Bayangkan jika Iran melancarkan serangan. Entah itu serangan balasan atas tindakan Israel, atau upaya untuk menyerang target Israel. Tapi, karena militer Israel sangat terlindungi, sangat canggih, dan sistem pertahanannya (seperti Iron Dome) sangat efektif, Iran gagal mencapai tujuannya. Mereka tidak berhasil menimbulkan kerusakan signifikan pada target-target militer Israel yang 'keras'. Jadi, serangan itu, dari sudut pandang Iran, tidak membuahkan hasil yang memuaskan.
Jika itu terjadi, jika Iran merasa frustrasi karena tidak bisa memukul target utama mereka secara efektif, apa pilihan lain yang mereka miliki? Artikel ini menunjukkan kemungkinan yang sangat meresahkan: Iran *selalu dapat* mengarahkan rudal-rudalnya ke target-target yang *lebih lunak*. Ya, target yang lebih mudah diserang, yang mungkin pertahanannya tidak secanggih Israel.
Dan di mana target-target yang lebih lunak ini berada? Di Teluk! Ya, kawasan Teluk lagi. Tapi mengapa Teluk? Mengapa negara-negara Arab di Teluk yang bertahun-tahun mencoba menavigasi hubungan yang kompleks dengan Iran di satu sisi dan sekutu Barat mereka di sisi lain? Alasannya, menurut artikel ini, adalah karena negara-negara Teluk ini *diyakini* oleh Iran telah *membantu dan mendukung* musuh-musuh Iran selama bertahun-tahun. Coba pikirkan ini: Iran mungkin melihat beberapa negara Teluk sebagai pihak yang telah bersekutu dengan Israel, atau setidaknya memfasilitasi tindakan yang merugikan Iran, entah melalui dukungan politik, ekonomi, atau bahkan kerja sama keamanan diam-diam.
Jadi, jika Israel terlalu sulit dipukul, target berikutnya yang dianggap 'sah' oleh Iran bisa jadi adalah negara-negara Teluk yang mereka pandang sebagai kolaborator musuh. Menyerang negara-negara Teluk ini, yang mungkin dianggap 'lunak' secara pertahanan dibandingkan Israel, akan mengirim pesan yang kuat, menimbulkan kerugian ekonomi dan politik, dan menciptakan krisis di jantung kawasan penghasil energi dunia.
Namun, inilah yang membuat skenario ini sangat berbahaya dan berpotensi menyeret lebih banyak pihak: Negara-negara Teluk ini *menjadi tuan rumah* bagi pangkalan udara dan fasilitas militer Amerika Serikat yang sangat besar. Anda ingat skenario pertama? AS punya pangkalan di Teluk. Itu bukan kebetulan. Kehadiran AS di Teluk sudah puluhan tahun menjadi pilar strategi keamanan di kawasan itu. Pangkalan-pangkalan ini menampung ribuan personel AS, pesawat tempur canggih, kapal perang, dan peralatan militer lainnya.
Jadi, bayangkan jika Iran (atau proksi-proksinya) menyerang target di negara-negara Teluk. Negara Teluk itu diserang. Infrastruktur mereka diserang. Mungkin warga sipil mereka terdampak. Apa yang akan mereka lakukan? Sebagai sekutu atau mitra AS yang menampung pasukan AS di wilayah mereka, mereka *dapat menuntut*... ya, menggunakan kata "menuntut" dalam artikel itu... agar pesawat tempur Amerika, yang sudah siap siaga di pangkalan-pangkalan di wilayah mereka sendiri itu, datang *membela mereka*. Ini adalah logika aliansi atau kemitraan pertahanan. Jika Anda menampung pasukan asing untuk keamanan, Anda mengharapkan mereka membantu ketika Anda diserang.
Dan bukan hanya membela negara Teluk yang diserang, artikel itu menambahkan, mereka juga bisa menuntut agar AS membela *Israel*. Mengapa Israel? Karena serangan awal oleh Iran terhadap negara Teluk itu adalah bagian dari konflik yang lebih besar antara Iran dan Israel. Serangan itu mungkin dimaksudkan sebagai balasan atau eskalasi dalam konteks perseteruan Iran-Israel. Jadi, dalam membela negara Teluk yang diserang, pasukan AS secara efektif juga akan bertindak melawan Iran dalam konflik yang berawal dari perseteruan Iran-Israel.
Ini menciptakan mekanisme penyeretan yang berbeda dari skenario pertama. Skenario pertama AS diserang langsung. Skenario kedua, AS terseret karena sekutunya (negara Teluk) diserang, dan sekutunya itu meminta bantuan AS, dan bantuan itu secara implisit atau eksplisit juga membela pihak lain dalam konflik (Israel). Ini adalah jaring laba-laba aliansi dan kehadiran militer yang sangat rumit. Serangan terhadap satu titik bisa memicu respons berantai yang menarik banyak aktor ke dalam pertempuran aktif.
Dampaknya bagi negara-negara Arab di Teluk akan sangat menghancurkan. Wilayah mereka menjadi medan perang. Kota-kota mereka bisa jadi target. Ekonomi mereka yang sangat bergantung pada ekspor energi bisa lumpuh. Stabilitas sosial bisa goyah. Warga sipil akan menjadi korban. Negara-negara yang tadinya mungkin berusaha menyeimbangkan hubungan atau tetap berada di luar konflik langsung tiba-tiba mendapati diri mereka berada di garis depan pertempuran. Status mereka berubah drastis: dari mungkin sekadar "membantu dan mendukung" menjadi "diserang" dan "terlibat langsung dalam perang".
Skenario kedua ini adalah peringatan keras tentang risiko penularan konflik di Timur Tengah. Api yang menyala antara dua negara bisa dengan cepat menyebar dan membakar seluruh kawasan, terutama negara-negara yang memiliki hubungan keamanan yang erat dengan kekuatan global seperti Amerika Serikat. Jika Iran merasa target utama mereka (Israel) terlalu sulit, mereka bisa beralih ke target 'lunak' di Teluk, dan tindakan itu, karena keberadaan pangkalan AS di sana dan hubungan keamanan yang ada, bisa langsung menyeret baik negara Teluk itu sendiri maupun Amerika Serikat ke dalam konflik aktif melawan Iran. Ini adalah potensi bencana regional yang bisa menimbulkan krisis kemanusiaan, ekonomi, dan politik yang sangat parah, jauh melampaui dampak militer langsung.
Jadi, skenario kedua ini, di mana negara-negara Arab terseret, menunjukkan betapa rapuhnya stabilitas di kawasan Teluk di tengah ketegangan yang meningkat antara Iran dan Israel. Ini adalah pengingat bahwa dalam konflik yang terhubung erat, tidak ada yang benar-benar aman atau terisolasi.
Kejatuhan Rezim Iran: Kemenangan atau Kekosongan Mengerikan?
Sekarang, mari kita lihat skenario terburuk ketiga. Yang ini mungkin yang paling ambisius dan, paradoxically, paling tidak pasti dampaknya. Ini bukan hanya tentang pertempuran taktis atau serangan balasan. Ini tentang kemungkinan *hasil akhir* jangka panjang. Bagaimana jika Israel berhasil dalam tujuan jangka panjangnya? Tujuan apa?
Artikel yang kita baca ini menyebutkan sebuah tujuan yang sangat, sangat besar yang mungkin ada dalam benak Israel: *memaksakan runtuhnya rezim revolusioner Islam di Iran*. Ya, Anda tidak salah baca. Bukan hanya melumpuhkan program nuklir. Bukan hanya menghukum atas serangan. Tapi mengganti seluruh sistem pemerintahan di Iran. Ini adalah target perubahan rezim.
Artikel itu dengan jelas menyatakan bahwa Israel dalam pernyataan sebelumnya telah menjelaskan bahwa tujuan mereka yang lebih luas *melibatkan perubahan rezim*. Ini adalah pengakuan yang signifikan. Ini bukan sekadar taktik militer, ini adalah strategi politik jangka panjang, yang bertujuan untuk mengubah lawan mereka secara fundamental dari dalam.
Menjatuhkan pemerintah yang berkuasa di Iran saat ini mungkin terdengar menarik bagi sebagian orang. Ya, bagi sebagian orang di kawasan itu, mereka mungkin melihat rezim Iran saat ini sebagai sumber utama ketidakstabilan, sebagai pendukung kelompok-kelompok yang mengancam keamanan mereka, sebagai kekuatan yang berusaha mendominasi kawasan. Jadi, bagi mereka, gagasan melihat rezim ini tumbang mungkin dilihat sebagai solusi yang disambut baik, cara untuk menghilangkan ancaman di akarnya.
Bahkan, artikel ini menyebutkan, mungkin juga menarik bagi *sebagian orang Israel*. Mengingat sejarah permusuhan yang panjang dan mendalam antara kedua negara, gagasan untuk melihat rezim yang mereka anggap sebagai ancaman eksistensial tumbang bisa jadi sangat menarik. Ini mungkin dilihat sebagai cara untuk mengamankan masa depan Israel untuk jangka panjang, dengan menyingkirkan pemerintah yang secara terbuka menyerukan kehancuran Israel.
Namun, di sinilah pertanyaan besar, pertanyaan yang menuntut perenungan yang mendalam dan realistis, muncul. Artikel ini langsung menindaklanjuti dengan pertanyaan krusial: *Namun, kekosongan apa yang mungkin ditinggalkannya?* Ini adalah inti dari skenario ketiga ini. Anda berhasil menyingkirkan rezim yang berkuasa, entah melalui tekanan militer, sanksi, atau kombinasi keduanya. Tapi kemudian apa? Apa yang akan mengisi ruang kosong kekuasaan yang ditinggalkan?
Sejarah, baik di Timur Tengah maupun di tempat lain di dunia, telah berulang kali menunjukkan bahwa menggulingkan rezim yang sudah mapan, terutama yang memiliki akar ideologis dan struktural yang dalam seperti di Iran, jarang sekali menghasilkan transisi yang mulus menuju stabilitas dan demokrasi yang damai. Sebaliknya, seringkali yang terjadi adalah munculnya kekosongan kekuasaan yang besar. Kekosongan ini bisa dengan cepat terisi oleh kekacauan, faksi-faksi yang saling bertarung, perang saudara, atau bahkan munculnya kekuatan yang justru lebih ekstrem dan sulit dikendalikan.
Bayangkan negara sebesar dan sepenting Iran. Negara dengan populasi lebih dari 80 juta jiwa, dengan sumber daya alam yang besar, dengan sejarah yang panjang dan kompleks, dan dengan pengaruh regional yang signifikan melalui proksi-proksinya dari Lebanon hingga Yaman. Jika pusat kekuasaan di Teheran runtuh secara tiba-tiba atau paksa, siapa yang akan memegang kendali? Apakah akan ada otoritas sentral yang mampu menjaga ketertiban? Atau akankah negara itu terpecah belah berdasarkan garis etnis, agama, atau politik?
Pertanyaan tentang 'kekosongan' ini mencakup banyak aspek kritis. Siapa yang akan mengendalikan angkatan bersenjata Iran? Siapa yang akan mengendalikan program nuklir Iran, yang meskipun mungkin tertunda oleh serangan, pengetahuannya tidak akan hilang? Bagaimana dengan perbatasan Iran yang luas dengan banyak negara tetangga yang rapuh? Akankah kekacauan internal meluas ke negara-negara tetangga?
Dan bagaimana dengan jaringan proksi Iran di seluruh kawasan? Hamas di Gaza, Hizbullah di Lebanon, milisi di Irak, Houthi di Yaman, dan lainnya. Jika rezim di Teheran runtuh, apakah kelompok-kelompok ini akan kehilangan dukungan dan bubar? Atau akankah mereka menjadi entitas yang lebih independen, mungkin lebih radikal dan brutal, beroperasi tanpa rantai komando yang jelas dari Teheran, membuat mereka bahkan lebih tidak terduga?
Kekosongan kekuasaan di Iran bisa menarik intervensi dari kekuatan eksternal yang ingin mengamankan kepentingan mereka atau mencegah munculnya kekuatan yang tidak diinginkan. Ini bisa memicu konflik proxy baru di dalam Iran itu sendiri atau di sepanjang perbatasannya. Ini bisa menciptakan gelombang pengungsian yang sangat besar, membebani negara-negara tetangga dan Eropa.
Jadi, sementara gagasan perubahan rezim mungkin terdengar menarik bagi sebagian pihak sebagai cara untuk menyelesaikan masalah Iran untuk selamanya, artikel ini dengan tepat menyoroti bahaya yang melekat pada strategi semacam itu. Kejatuhan rezim tidak secara otomatis berarti munculnya pemerintahan yang lebih baik atau lebih stabil. Seringkali, yang terjadi adalah kekacauan yang meluas dan berkepanjangan, menciptakan masalah baru yang mungkin lebih sulit untuk dihadapi daripada rezim aslinya.
Skenario ketiga ini mengingatkan kita bahwa dalam geopolitik, solusi yang paling drastis bukanlah jaminan stabilitas. Tujuan perubahan rezim di Iran mungkin ambisius, tetapi pertanyaan tentang 'kekosongan' yang akan ditinggalkannya adalah pertanyaan yang sangat penting dan sering diabaikan. Apakah Israel, atau siapa pun yang menginginkan kejatuhan rezim Iran, punya rencana yang matang untuk mengelola kekacongan pasca-rezim? Jika tidak, 'kejatuhan' itu bisa berubah menjadi pintu gerbang menuju mimpi buruk baru yang jauh lebih besar dan lebih rumit daripada apa yang sudah ada.
Ini bukan hanya tentang siapa yang berkuasa di Teheran. Ini tentang apa yang terjadi ketika tidak ada yang benar-benar berkuasa secara efektif. Kekosongan kekuasaan adalah kondisi yang berbahaya, dan dalam konteks negara sebesar dan sepenting Iran, kekosongan itu bisa menciptakan gelombang ketidakstabilan yang mengguncang seluruh Timur Tengah dan bahkan melampauinya. Skenario kejatuhan rezim, tanpa rencana yang jelas untuk mengatasi 'kekosongan' yang ditinggalkannya, adalah salah satu skenario terburuk yang mungkin terjadi, bukan karena rezim itu sendiri tumbang, tapi karena apa yang mungkin muncul dari kehancurannya.
Jadi, itulah dia. Tiga skenario terburuk yang diuraikan berdasarkan informasi yang kita lihat. Dari penyeretan Amerika Serikat, yang berakar pada keyakinan Iran tentang peran AS dan keberadaan target-target AS yang rentan serta proksi Iran yang masih kuat. Hingga negara-negara Arab terseret masuk ke dalam pusaran, dipicu oleh kemungkinan Iran menyerang target 'lunak' di Teluk jika gagal memukul Israel, dan bagaimana itu bisa menarik kekuatan AS yang ada di sana.
Dan terakhir, skenario yang paling jangka panjang dan tidak pasti: kejatuhan rezim di Iran sebagai tujuan Israel, dan pertanyaan besar yang membayangi: kekosongan mengerikan apa yang mungkin ditinggalkan oleh keruntuhan itu? Semua ini, sekali lagi, bukan spekulasi liar tanpa dasar. Ini adalah kemungkinan-kemungkinan yang diangkat dan dibahas dalam analisis situasi, didasarkan pada elemen-elemen yang sudah ada di lapangan: keyakinan, target militer, kehadiran kekuatan eksternal, proksi regional, dan tujuan politik yang dinyatakan.
Kita melihat Teheran, di mana semuanya bermula, dengan pertempuran yang saat ini terbatas. Tapi kita juga melihat jalur-jalur potensial menuju eskalasi besar yang bisa mengubah segalanya. Skenario-skenario ini adalah pengingat yang jelas tentang betapa rapuhnya situasi keamanan di Timur Tengah saat ini. Setiap langkah salah, setiap perhitungan yang meleset, setiap provokasi yang berlebihan, bisa menjadi pemicu yang mengubah pertempuran terbatas menjadi konflik regional yang meluas, bahkan berpotensi menyeret kekuatan global dan menciptakan kekacauan jangka panjang.
Seruan-seruan untuk meredakan ketegangan... untuk menahan diri... sekarang terdengar lebih penting dari sebelumnya. Karena jika seruan-seruan itu tidak didengarkan, jika ketegangan terus meningkat dan pertempuran meluas, maka skenario-skenario terburuk ini... skenario-skenario yang baru saja kita bedah... bisa saja berubah dari kemungkinan yang mengkhawatirkan menjadi kenyataan yang mengerikan. Dan itu adalah kenyataan yang, saya rasa, tidak seorang pun, di kawasan ini atau di mana pun di dunia, benar-benar ingin hadapi.
Memahami risiko adalah langkah pertama untuk menghindarinya. Dan skenario-skenario ini dengan jelas memetakan risiko-risiko terbesar yang ada di depan.
```
Komentar
Posting Komentar