Langsung ke konten utama

3 Komjen Pol Lulusan Akpol 1992, Nomor 1 Berdinas di Internal Polri

```html

Mengenal Lebih Dekat 3 Komjen Pol Lulusan Akpol 1992: Siapa yang Berpotensi Jadi 'Orang Nomor Satu'?

Halo, selamat datang kembali! Kali ini kita akan bedah sesuatu yang seru, sesuatu yang selalu menarik perhatian publik di negeri ini: peta jalan karier para jenderal di Kepolisian Republik Indonesia, atau yang biasa kita sebut Polri. Khususnya, kita akan lihat angkatan tertentu yang punya potensi besar di masa depan.

Anda tahu, di institusi sebesar Polri, perjalanan karier itu berjenjang, penuh tantangan, dan pastinya, kompetitif. Setiap perwira, apalagi yang sudah berpangkat tinggi, punya kans untuk terus naik. Nah, ada satu angkatan yang belakangan ini cukup banyak dibicarakan, yaitu lulusan Akademi Kepolisian atau Akpol tahun 1992.

Kenapa angkatan ini menarik? Karena, berdasarkan informasi yang ada, setidaknya ada tiga perwira tinggi dari angkatan ini yang sudah mencapai pangkat bintang tiga, atau yang resmi disebut Komisaris Jenderal Polisi, disingkat Komjen Pol. Tiga nama ini adalah Komjen Pol Wahyu Hadiningrat, Komjen Pol Nico Afinta, dan Komjen Pol Makhruzi Rahman.

Pangkat bintang tiga itu bukan pangkat sembarangan, lho. Itu adalah satu langkah lagi menuju puncak, menuju pangkat bintang empat, atau Jenderal Polisi penuh. Dan kita tahu, puncak tertinggi di Polri itu adalah jabatan Kapolri. Nah, inilah yang membuat ketiga nama ini jadi sorotan. Mereka punya peluang, punya kans, untuk bisa menembus pangkat tertinggi itu, bahkan sampai memegang tongkat komando sebagai Kapolri.

Namun, perjalanan menuju puncak itu tidak pernah mulus, kan? Selalu ada persaingan, selalu ada tantangan. Dalam konteks ini, ketiga Komjen dari Akpol 1992 ini juga harus bersaing, beradu "gas" dengan para senior mereka yang juga sudah berpangkat Komjen Pol. Senior-senior ini datang dari angkatan yang lebih dulu lulus dari Akpol, misalnya angkatan 1991.

Nama-nama senior yang juga berpeluang ini termasuk figur-figur yang juga sudah dikenal luas, seperti Komjen Fadil Imran, Komjen Wahyu Widada, Komjen Syahar Diantono, Komjen Marthinus Hukom, dan Komjen Mohammad Iqbal. Mereka semua juga pemegang bintang tiga, dan tentunya, punya pengalaman dan rekam jejak yang juga panjang dan mumpuni. Jadi, bisa dibayangkan betapa ketatnya persaingan di level ini, kan?

Intinya, punya bintang tiga di pundak itu membuka pintu lebar-lebar untuk menembus bintang empat, asalkan, ya, ditunjuk untuk menduduki posisi yang membutuhkan pangkat bintang empat, yang paling prestisius tentunya adalah Kapolri. Jadi, siapa saja sih ketiga Komjen dari Akpol 1992 ini? Dan apa saja posisi yang mereka pegang saat ini yang membuat mereka masuk dalam daftar perwira tinggi yang berpotensi ini?

Mari kita bedah satu per satu, berdasarkan data yang kita punya.

Perjalanan Karier Menuju Puncak: Peluang Bintang Empat untuk Lulusan Akpol 1992

Di institusi kepolisian, kenaikan pangkat itu bukan sekadar rutinitas. Apalagi di level perwira tinggi. Dari Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) ke Komisaris Besar Polisi (Kombes Pol), lalu ke Brigadir Jenderal Polisi (Brigjen Pol - bintang satu), ke Inspektur Jenderal Polisi (Irjen Pol - bintang dua), dan akhirnya ke Komisaris Jenderal Polisi (Komjen Pol - bintang tiga). Setiap langkah itu butuh dedikasi, kinerja, dan kepercayaan dari pimpinan. Nah, mencapai level Komjen itu sendiri sudah merupakan sebuah pencapaian luar biasa. Itu menunjukkan bahwa seorang perwira telah melewati berbagai penugasan strategis, menunjukkan kapasitas kepemimpinan, dan diakui kontribusinya.

Pangkat Komjen adalah level jenderal penuh, setara dengan Letnan Jenderal di TNI. Ada beberapa posisi strategis di Polri yang diisi oleh perwira berpangkat Komjen, seperti Kepala Badan, Asisten Kapolri, atau pejabat lain di luar struktur Polri namun masih dalam penugasan institusi, seperti yang akan kita lihat nanti.

Nah, mengapa Komjen itu disebut punya peluang ke bintang empat? Karena puncak hierarki di Polri adalah Jenderal Polisi (bintang empat). Posisi ini biasanya hanya dipegang oleh satu orang, yaitu Kapolri. Ada juga posisi lain yang bisa berpangkat bintang empat, misalnya Wakapolri, tapi itu juga bergantung pada kebutuhan organisasi dan keputusan presiden. Namun, fokus utama pembicaraan mengenai peluang bintang empat ini seringkali merujuk pada potensi menjadi Kapolri.

Menjadi Kapolri itu bukan hanya soal pangkat, tapi juga soal amanah dan tanggung jawab yang sangat besar. Memimpin institusi sebesar Polri yang membawahi ratusan ribu personel di seluruh Indonesia, menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat, serta penegakan hukum. Ini posisi yang sangat krusial.

Jadi, ketika kita melihat ada perwira berpangkat Komjen, apalagi dari satu angkatan yang sama, itu artinya mereka berada di "jalur cepat" atau setidaknya berada di level di mana peluang untuk melangkah lebih tinggi itu sangat terbuka, asalkan persyaratan lain terpenuhi, seperti masa pensiun yang masih panjang dan penilaian kinerja yang sangat baik, serta yang paling penting, penunjukan oleh Presiden.

Namun, seperti sudah disinggung tadi, jalan ke puncak itu tidak kosong. Selalu ada perwira lain yang juga berada di level yang sama, bahkan mungkin lebih senior. Di sinilah persaingan itu terjadi. Dalam kasus Komjen lulusan Akpol 1992 ini, mereka punya senior-senior dari Akpol 1991 yang juga sudah mencapai pangkat Komjen. Anda bisa bayangkan dinamikanya, kan? Dalam tradisi militer dan kepolisian, senioritas itu seringkali memegang peranan penting. Angkatan yang lebih tua biasanya punya pengalaman penugasan yang lebih lama, jaringan yang lebih luas, dan mungkin sudah menduduki posisi-posisi strategis lebih dulu.

Nama-nama dari Akpol 1991 yang disebut tadi, seperti Komjen Fadil Imran, Komjen Wahyu Widada, Komjen Syahar Diantono, Komjen Marthinus Hukom, dan Komjen Mohammad Iqbal, mereka semua adalah perwira-perwira hebat dengan rekam jejak masing-masing. Mereka juga berhak punya impian dan kesempatan yang sama untuk bisa melangkah ke bintang empat atau posisi puncak lainnya. Persaingan di antara para Komjen, baik yang seangkatan maupun beda angkatan, ini adalah hal yang wajar dalam sebuah institusi besar. Itu menunjukkan bahwa ada banyak perwira berkualitas yang siap mengemban tugas lebih besar.

Komjen dari Akpol 1992 punya keunggulan dari sisi usia yang relatif lebih muda dibandingkan seniornya, yang berarti masa dinas aktif mereka masih lebih panjang. Ini bisa menjadi modal berharga. Tapi senior dari Akpol 1991 punya keunggulan dari sisi pengalaman dan jam terbang yang mungkin lebih tinggi. Jadi, ini adalah sebuah kompetisi yang sehat, di mana pimpinan dan Presiden yang nantinya akan menilai siapa yang paling pas dan siap untuk mengemban amanah di level tertinggi.

Mari kita fokus lagi ke angkatan 1992. Kita akan lihat lebih detail profil dua dari tiga Komjen yang disebutkan, berdasarkan informasi yang kita punya.

Komjen Pol Wahyu Hadiningrat: Dari Wakapolda Hingga Asrena Kapolri

Nama pertama yang patut kita perhatikan dari lulusan Akpol 1992 yang sudah meraih bintang tiga adalah Komjen Pol Wahyu Hadiningrat. Beliau adalah salah satu figur dari angkatan ini yang saat ini memegang peran strategis di internal Polri.

Saat ini, berdasarkan informasi yang kita terima, Komjen Pol Wahyu Hadiningrat menjabat sebagai Asisten Utama Bidang Perencanaan dan Anggaran Kapolri. Jabatan ini cukup krusial, lho. Asisten Kapolri Bidang Perencanaan dan Anggaran, atau yang biasa disingkat Asrena Kapolri, itu tugasnya merumuskan kebijakan dan strategi perencanaan jangka panjang Polri, mengalokasikan anggaran, serta melakukan evaluasi dan pengembangan organisasi. Bayangkan saja, mengelola perencanaan dan anggaran untuk institusi sebesar Polri, yang jaringannya sampai ke seluruh pelosok negeri, itu butuh ketelitian, visi, dan kemampuan manajerial yang tinggi. Posisi ini sangat sentral dalam menentukan arah pembangunan dan operasional Polri ke depan.

Komjen Pol Wahyu Hadiningrat sendiri adalah lulusan Akpol tahun 1992. Dari sisi usia, saat ini beliau berusia 54 tahun. Usia 54 itu bagi seorang perwira tinggi masih tergolong produktif dan punya masa dinas yang cukup panjang ke depan, memberikan kesempatan lebih luas untuk meniti karier ke jenjang yang lebih tinggi lagi.

Perjalanan karier beliau sebelum menduduki posisi Asrena Kapolri juga cukup panjang dan beragam. Beliau pernah menduduki beberapa posisi strategis yang menunjukkan kemampuannya di berbagai bidang penugasan. Misalnya, pada tahun 2018, Komjen Wahyu Hadiningrat pernah menjabat sebagai Wakapolda Metro Jaya. Posisi Wakapolda Metro Jaya itu bukan posisi sembarangan. Polda Metro Jaya adalah Polda yang membawahi ibu kota negara dan sekitarnya, dengan kompleksitas masalah keamanan yang sangat tinggi. Menjadi wakil pimpinannya berarti terlibat langsung dalam menjaga keamanan dan ketertiban di jantung pemerintahan dan ekonomi negara.

Setelah itu, pada tahun 2020, beliau mendapat penugasan di Badan Reserse Kriminal Polri (Bareskrim Polri) sebagai Wakabareskrim Polri. Bareskrim adalah satuan di Polri yang bertugas dalam penegakan hukum pidana, menangani berbagai kasus kejahatan, mulai dari yang ringan hingga kejahatan kelas kakap seperti korupsi, terorisme, dan kejahatan transnasional. Menjadi Wakabareskrim berarti menjadi tangan kanan Kabareskrim dalam mengoordinasikan dan mengawasi seluruh operasi penegakan hukum yang dilakukan Bareskrim di seluruh Indonesia. Ini posisi yang membutuhkan ketajaman analisis hukum, kemampuan investigasi, dan keberanian.

Kemudian, pada tahun 2021, Komjen Wahyu Hadiningrat sempat menduduki posisi Asrena Kapolri. Ya, posisi yang sama dengan yang beliau emban saat ini. Ini menarik, karena beliau kembali dipercaya untuk mengemban tugas yang berkaitan erat dengan perencanaan strategis dan anggaran. Penugasan ini menunjukkan bahwa beliau memiliki keahlian dan pengalaman yang diakui dalam bidang tersebut. Kembali menduduki posisi Asrena Kapolri pada 20 September 2024 (sesuai data yang ada) menegaskan lagi kapabilitasnya di area ini.

Rekam jejak penugasan di berbagai bidang ini, mulai dari kewilayahan (Wakapolda Metro Jaya), fungsi teknis reserse (Wakabareskrim), hingga fungsi staf/perencanaan (Asrena Kapolri), menunjukkan bahwa Komjen Wahyu Hadiningrat memiliki pengalaman yang komprehensif. Pengalaman seperti ini sangat berharga bagi seorang perwira tinggi yang berpotensi meniti tangga karier ke level yang lebih tinggi lagi. Mengetahui berbagai sisi dari operasional dan manajemen Polri dari berbagai posisi yang pernah dipegang bisa menjadi bekal kepemimpinan yang kuat.

Posisi Asrena Kapolri yang saat ini beliau emban adalah posisi bintang tiga yang sangat penting dalam organisasi. Ini adalah panggung yang baik untuk menunjukkan visi strategis dan kemampuan manajerial dalam skala nasional. Berada di posisi ini menempatkan beliau dalam daftar perwira tinggi yang memiliki peluang besar untuk terus berkembang dan bersaing untuk posisi puncak di masa mendatang. Usia yang relatif masih memungkinkan masa dinas aktif yang cukup panjang juga menjadi nilai tambah dalam peta persaingan menuju bintang empat.

Perjalanan karier Komjen Wahyu Hadiningrat adalah contoh bagaimana seorang perwira dari angkatan 1992 telah meniti jalan yang panjang dan penuh tantangan hingga mencapai level Komjen. Setiap posisi yang pernah beliau duduki memberikan kontribusi pada pembentukan kepemimpinan dan keahlian yang dimilikinya saat ini. Dan posisi Asrena Kapolri adalah bukti kepercayaan institusi terhadap kapabilitasnya di level tertinggi.

Komjen Pol Nico Afinta: Penugasan di Luar Struktur Polri

Nama kedua dari angkatan Akpol 1992 yang juga sudah menyandang pangkat Komjen Pol adalah Komjen Pol Nico Afinta. Beliau juga merupakan salah satu figur dari angkatan ini yang patut dicermati dalam konteks peta persaingan perwira tinggi Polri.

Berbeda dengan Komjen Wahyu Hadiningrat yang saat ini bertugas di internal Mabes Polri, Komjen Pol Nico Afinta saat ini diketahui menduduki posisi di luar struktur utama Polri. Menurut informasi yang tersedia, beliau menjabat sebagai Sekretaris Jenderal Kementerian Hukum. Ini adalah sebuah penugasan yang menarik, di mana seorang perwira tinggi Polri mendapat amanah untuk menduduki posisi strategis di lingkungan kementerian lain.

Jabatan Sekretaris Jenderal, di kementerian manapun, adalah posisi yang sangat penting. Sekjen bertugas sebagai koordinator administrasi dan manajemen seluruh kementerian, memastikan roda organisasi berjalan lancar, mengelola sumber daya manusia, keuangan, dan logistik. Di Kementerian Hukum, Sekjen memiliki peran vital dalam mendukung operasional seluruh unit kerja, termasuk yang terkait dengan sistem peradilan, pemasyarakatan, imigrasi, dan administrasi hukum lainnya. Ini adalah tugas yang membutuhkan kemampuan manajerial dan pemahaman yang mendalam tentang birokrasi pemerintahan.

Penempatan seorang perwira tinggi Polri sebagai Sekjen di kementerian lain menunjukkan adanya sinergi antar lembaga pemerintah dan pengakuan atas kapasitas manajerial yang dimiliki oleh perwira Polri tersebut. Meskipun tidak bertugas di fungsi kepolisian sehari-hari, Komjen Nico Afinta tetap berstatus sebagai anggota Polri dan menyandang pangkat Komjen. Penugasan di luar struktur ini adalah bentuk kontribusi Polri dalam memperkuat birokrasi di sektor lain, memanfaatkan keahlian manajerial dan kepemimpinan yang telah diasah selama bertahun-tahun di kepolisian.

Komjen Pol Nico Afinta juga merupakan lulusan Akpol tahun 1992, sama dengan Komjen Wahyu Hadiningrat dan Komjen Makhruzi Rahman. Dari sisi usia, beliau saat ini berusia 53 tahun. Usia 53 juga masih tergolong produktif bagi seorang perwira tinggi, memberikan ruang yang cukup untuk potensi penugasan di masa mendatang, baik kembali ke internal Polri di posisi strategis, maupun terus berkarier di luar struktur Polri jika memang dianggap perlu.

Penugasan di luar struktur Polri seperti ini bukan hal yang asing. Beberapa perwira tinggi Polri memang sering mendapat amanah di berbagai lembaga negara lain, seperti kementerian, badan, atau lembaga independen. Ini adalah bukti pengakuan terhadap kualitas sumber daya manusia Polri yang tidak hanya terampil dalam bidang kepolisian murni, tetapi juga memiliki kapasitas dalam bidang manajerial, organisasi, dan bahkan keahlian teknis tertentu yang dibutuhkan oleh lembaga lain.

Bagi Komjen Pol Nico Afinta, menjabat sebagai Sekjen Kementerian Hukum adalah sebuah pengalaman yang berbeda namun sangat berharga. Ini memberikannya perspektif yang lebih luas mengenai tata kelola pemerintahan di luar lingkungan Polri. Pemahaman tentang birokrasi kementerian lain, mekanisme kerja di lingkungan eksekutif yang lebih luas, serta koordinasi antar lembaga, semua ini akan menambah bekal kepemimpinan beliau.

Meskipun sedang bertugas di luar struktur utama Polri, status beliau sebagai Komjen dari Akpol 1992 tetap menempatkannya dalam daftar perwira tinggi yang memiliki potensi untuk masa depan. Pengalaman di luar institusi utama bisa jadi merupakan nilai tambah yang dilihat oleh pimpinan dalam menilai kesiapan seorang perwira untuk menduduki posisi yang lebih tinggi, termasuk di lingkungan Polri sendiri kelak, atau di pos-pos strategis lainnya di pemerintahan.

Posisi Sekjen Kementerian Hukum adalah posisi yang membutuhkan kemampuan koordinasi tingkat tinggi dan pemahaman yang mendalam tentang proses birokrasi. Menjabat di posisi ini sebagai seorang Komjen menunjukkan bahwa beliau dipercaya untuk mengemban tugas manajerial yang kompleks di luar 'habitat' asli kepolisian. Ini adalah bukti fleksibilitas dan kapabilitas seorang perwira tinggi dari angkatan 1992 dalam beradaptasi dan berkontribusi di berbagai lingkungan penugasan.

Jadi, meskipun jalurnya agak berbeda saat ini, Komjen Pol Nico Afinta, sebagai seorang Komjen dari Akpol 1992, tetap menjadi salah satu figur yang patut dicermati dalam peta persaingan perwira tinggi Polri. Pengalaman dan keahlian yang beliau miliki, ditambah dengan pengalaman unik di luar struktur Polri, bisa menjadi modal berharga untuk perjalanan karier beliau di masa mendatang.

Komjen Pol Makhruzi Rahman: Figur Ketiga dari Akpol 1992

Selain Komjen Pol Wahyu Hadiningrat dan Komjen Pol Nico Afinta, nama ketiga yang disebutkan sebagai perwira tinggi berpangkat Komjen Pol lulusan Akpol 1992 adalah Komjen Pol Makhruzi Rahman. Beliau melengkapi daftar tiga Komjen dari angkatan 1992 yang saat ini berada di level perwira tinggi bintang tiga.

Sayangnya, informasi spesifik mengenai posisi atau jabatan yang saat ini diemban oleh Komjen Pol Makhruzi Rahman tidak dijelaskan secara rinci dalam data yang kita miliki, selain fakta bahwa beliau adalah salah satu dari tiga Komjen lulusan Akpol 1992. Namun, penyebutan namanya dalam daftar ini secara otomatis menempatkannya dalam kelompok perwira tinggi dari angkatan 1992 yang telah mencapai pangkat Komjen.

Mencapai pangkat Komjen itu sendiri, seperti sudah dibahas sebelumnya, adalah sebuah pencapaian besar dalam karier seorang perwira Polri. Ini menunjukkan bahwa Komjen Pol Makhruzi Rahman juga telah melewati berbagai tahapan penugasan dan menunjukkan kapasitas yang dibutuhkan untuk mencapai level bintang tiga. Meskipun detail posisinya tidak tercantum, keberadaannya di level Komjen mengonfirmasi bahwa angkatan Akpol 1992 memang melahirkan perwira-perwira yang berkualitas dan mampu meniti tangga karier hingga ke tingkat tertinggi.

Seperti halnya Komjen Wahyu Hadiningrat dan Komjen Nico Afinta, Komjen Pol Makhruzi Rahman juga merupakan bagian dari angkatan 1992 yang kini menjadi sorotan karena potensi mereka untuk melangkah lebih jauh di institusi Polri. Sebagai Komjen, beliau juga memiliki peluang yang sama untuk bisa mencapai pangkat bintang empat, Jenderal Polisi, asalkan dinamika organisasi dan penunjukan pimpinan memungkinkan.

Keberadaan tiga Komjen dari satu angkatan yang sama, Akpol 1992, adalah bukti kekuatan dan kualitas dari angkatan tersebut. Ini menunjukkan bahwa proses pembinaan karier di Polri berjalan dengan baik, dan angkatan 1992 telah menghasilkan perwira-perwira yang mampu bersaing di level tertinggi. Komjen Pol Makhruzi Rahman, meskipun dengan informasi terbatas, tetap merupakan bagian integral dari cerita potensi angkatan 1992 ini.

Sama seperti rekan-rekan seangkatannya di level Komjen, beliau juga akan menghadapi persaingan dengan para senior dari angkatan 1991 dan mungkin juga dinamika internal Polri lainnya. Namun, sebagai pemegang bintang tiga dari angkatan 1992, nama Komjen Pol Makhruzi Rahman patut masuk dalam radar pengamatan mengenai perkembangan karier perwira tinggi Polri di masa mendatang.

Informasi yang minim tentang posisi spesifik beliau tidak mengurangi fakta bahwa beliau adalah salah satu dari segelintir perwira dari angkatan 1992 yang telah mencapai level tertinggi di Polri saat ini. Pencapaian pangkat Komjen adalah fondasi penting yang membuka pintu menuju peluang yang lebih besar di masa depan kariernya.

Persaingan di Puncak dan Dinamika Angkatan

Apa yang bisa kita simpulkan dari keberadaan tiga Komjen dari Akpol 1992 ini? Pertama, angkatan 1992 adalah angkatan yang kuat, yang telah berhasil mencetak setidaknya tiga perwira hingga ke level bintang tiga. Ini menunjukkan kualitas bibit dan proses pembinaan yang mereka lalui selama ini.

Kedua, keberadaan mereka di level Komjen menempatkan mereka sebagai kandidat potensial untuk posisi puncak di Polri, termasuk posisi Jenderal Polisi (bintang empat) dan bahkan Kapolri. Pangkat bintang tiga adalah prasyarat penting untuk bisa melangkah ke bintang empat, dan posisi Kapolri adalah posisi bintang empat yang paling diincar.

Namun, yang ketiga, dan ini poin krusial, adalah persaingan. Seperti yang sudah dijelaskan, jalan menuju puncak itu tidak hanya milik satu angkatan. Ada angkatan senior, dalam hal ini Akpol 1991, yang juga punya banyak perwira berpangkat Komjen. Nama-nama seperti Komjen Fadil Imran, Komjen Wahyu Widada, Komjen Syahar Diantono, Komjen Marthinus Hukom, dan Komjen Mohammad Iqbal adalah contoh senior dari Akpol 1991 yang juga memiliki peluang besar. Mereka punya keunggulan dari sisi senioritas dan pengalaman yang mungkin lebih panjang.

Dinamika angkatan di institusi seperti Polri itu memang unik. Ada rasa kebersamaan yang kuat di antara sesama lulusan angkatan yang sama. Mereka adalah "adik-kakak" seperjuangan sejak di kawah candradimuka Akpol. Namun, ketika berbicara soal penugasan dan posisi strategis di level tertinggi, dinamika persaingan itu tetap ada, meskipun biasanya tetap dalam koridor profesionalisme dan saling menghormati.

Kompetisi antara angkatan 1992 dan 1991 di level Komjen ini akan sangat menarik untuk diamati dalam beberapa tahun ke depan. Siapa yang akan mendapat kepercayaan untuk promosi ke bintang empat? Siapa yang akan dipertimbangkan untuk posisi-posisi paling strategis? Usia pensiun juga menjadi faktor penentu. Angkatan 1991 secara alamiah akan memasuki masa pensiun lebih dulu dibandingkan angkatan 1992.

Ini adalah peta persaingan yang sehat. Adanya banyak perwira tinggi berkualitas dari berbagai angkatan menunjukkan bahwa Polri memiliki kedalaman sumber daya manusia yang mumpuni. Keputusan akhir mengenai siapa yang akan menduduki posisi puncak ada di tangan pimpinan tertinggi negara, yaitu Presiden, dengan mempertimbangkan berbagai aspek, mulai dari rekam jejak, kinerja, integritas, kapabilitas, hingga pertimbangan politis dan kebutuhan organisasi.

Bagi Komjen dari Akpol 1992, tantangan terdekat adalah terus menunjukkan kinerja terbaik di posisi masing-masing, membangun rekam jejak yang semakin solid, dan mempersiapkan diri untuk penugasan yang lebih besar. Posisi Komjen yang mereka sandang saat ini adalah bukti bahwa mereka sudah diakui di level tertinggi. Tinggal bagaimana mereka mengelola peluang dan tantangan di masa mendatang.

Angkatan 1992 kini punya tiga figur kuat di level Komjen: Komjen Pol Wahyu Hadiningrat dengan pengalamannya di bidang staf dan operasional, Komjen Pol Nico Afinta dengan penugasan di luar struktur Polri, dan Komjen Pol Makhruzi Rahman yang melengkapi kekuatan angkatan ini di level bintang tiga. Ketiganya, bersama Komjen dari angkatan 1991 dan angkatan lainnya, akan mewarnai dinamika kepemimpinan Polri di masa depan.

Kita akan terus pantau perkembangan karier perwira-perwira hebat ini. Siapa dari mereka yang akan menorehkan sejarah sebagai penerima bintang empat berikutnya, atau bahkan memegang tampuk kepemimpinan tertinggi sebagai Kapolri? Waktu yang akan menjawab, dan pastinya, kinerja dan keputusan pimpinan yang akan menentukan.

```

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Silfester Matutina Tuding Ada Bohir di Balik Desakan Pemakzulan Gibran

Berikut adalah artikel yang Anda minta, dalam gaya Anderson Cooper yang informal dan menarik, siap untuk dipublikasikan: Skandal Bohir Pemakzulan Gibran: Siapa Dalang di Balik Layar? Skandal Bohir Pemakzulan Gibran: Siapa Dalang di Balik Layar? Anda tahu, di dunia politik, seringkali ada drama yang tersaji di depan mata kita. Tapi, pernahkah Anda berpikir, apa yang sebenarnya terjadi di balik panggung? Siapa yang menarik tali, siapa yang memegang kendali? Pertanyaan-pertanyaan semacam inilah yang tiba-tiba menyeruak ke permukaan, mencuat dari sebuah pengakuan yang cukup mengejutkan. Ini bukan sekadar desas-desus, ini adalah tudingan serius yang dilemparkan langsung oleh salah satu tokoh di barisan pendukung capres-cawapres yang baru saja memenangkan kontestasi, Bapak Silfester Matutina. Silfester Matutina, Ketua Umum Solidaritas Merah Putih (Solmet), baru-baru ini membuat pernyataan yang bisa dibilang mengguncang jagat politik...

Khotbah Jumat Pertama Dzulhijjah : Keutamaan 10 Hari Awal Bulan Haji

Khotbah Jumat kali ini mengangkat tema keutamaan 10 hari pertama bulan Dzulhijjah. Dan hari ini merupakan Jumat pertama di Bulan Haji tersebut bertepatan dengan tanggal 30 Mei 2025. Berikut materi Khotbah Jumat Dzulhijjah disampaikan KH Bukhori Sail Attahiry dilansir dari website resmi Masjid Istiqlal Jakarta. Khutbah ini bisa dijadikan materi dan referensi bagi khatib maupun Dai yang hendak menyampaikan khotbah Jumat. Allah subhanahu wata'ala memberikan keutamaan pada waktu-waktu agung. Di antara waktu agung yang diberikan keutamaan oleh Allah adalah 10 hari pertama bulan Dzulhijjah . Keutamaan tersebut memberikan kesempatan kepada umat Islam agar memanfaatkannya untuk berlomba mendapatkan kebaikan, baik di dunia maupun di Akhirat. Hal ini dijelaskan melalui Hadis Nabi shallallahu 'alaihi wasallam berikut: Artinya: "Dari Jabir radhiyallahu 'anhu bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Sebaik-baiknya hari dunia adalah sepuluh...

KIKO Season 4 Episode THE CURATORS Bawa Petualangan Baru Kota Asri Masa Depan

JAKARTA - Menemani minggu pagi yang seru bersama keluarga, serial animasi KIKO Season Terbaru hadir di RCTI dengan membawa keseruan untuk dinikmati bersama di rumah. Hingga saat ini, KIKO telah meraih lima penghargaan bergengsi di tingkat nasional dan internasional dalam kategori anak-anak dan animasi. Serial ini juga telah didubbing ke dalam empat bahasa dan tayang di 64 negara melalui berbagai platform seperti Disney XD, Netflix, Vision+, RCTI+, ZooMoo Channel, dan Roku Channel. Musim terbaru ini menghadirkan kisah yang lebih segar dan inovatif, mempertegas komitmen MNC Animation dalam industri kreatif. Ibu Liliana Tanoesoedibjo menekankan bahwa selain menyajikan hiburan yang seru, KIKO juga mengandung nilai edukasi yang penting bagi anak-anak Indonesia. Berikut sinopsis episode terbaru KIKO minggu ini. Walikota menugaskan Kiko dkk untuk menyelidiki gedung bekas Galeri Seni karena diduga telah alih fungsi menjadi salah satu markas The Rebel. Kiko, Tingting, Poli, dan Pa...