Langsung ke konten utama

Indo Defence, Kontribusi Indonesia terhadap Perdamaian Dunia

Indo Defence 2025: Saat Jakarta Jadi Pusat Diplomasi Pertahanan Dunia Tanpa Anggaran Negara? Ini Kisahnya!

Jakarta... lagi-lagi jadi sorotan dunia. Tapi kali ini bukan karena kemacetannya yang legendaris di jam pulang kerja, atau hiruk-pikuk pasar tradisionalnya yang penuh warna. Tidak. Kali ini, perhatian global tertuju ke sebuah arena yang mungkin jarang kita lirik sehari-hari: dunia pertahanan dan keamanan.

Bayangkan saja, di jantung Ibu Kota kita, di JIEXPO Kemayoran yang luas itu, sesuatu yang besar baru saja dimulai. Sebuah hajatan internasional yang skalanya... wah, luar biasa. Namanya Indo Defence 2025 Expo & Forum. Dan kabar gembiranya (atau mungkin mengejutkannya?), acara akbar ini dibuka langsung oleh orang nomor satu di negeri ini, Bapak Presiden Prabowo Subianto, pada Rabu, 11 Juni 2025 lalu.

Ini bukan pameran dadakan. Indo Defence ini, kalau Anda belum tahu, adalah acara rutin yang digelar setiap dua tahun sekali. Seperti Olimpiade-nya dunia pertahanan, tapi dihelat di Jakarta. Dan edisi 2025 ini... punya keistimewaan tersendiri, sesuatu yang mungkin membuat kita berhenti sejenak dan berpikir. Apa itu? Kabarnya, penyelenggaraan pameran dan forum pertahanan internasional ini terselenggara tanpa menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Tanpa APBN? Untuk acara sebesar ini? Coba renungkan sejenak. Sebuah perhelatan internasional yang melibatkan puluhan negara, ribuan peserta, dihadiri presiden... dan kabarnya, tidak sepeser pun uang rakyat dari kas negara yang digunakan. Ini menarik, bukan? Ini menunjukkan sebuah model penyelenggaraan yang mungkin patut kita pahami lebih dalam, bagaimana sebuah event strategis berskala global bisa bergulir tanpa membebani APBN.

Jadi, apa saja sih yang terjadi di Indo Defence 2025 yang berlangsung dari tanggal 11 sampai 14 Juni di JIExpo Kemayoran ini? Ya, seperti namanya, ini adalah Expo dan Forum. Ada pameran, tempat para pelaku industri pertahanan memamerkan teknologi dan produk terbarunya. Ada juga forum, tempat diskusi, pertemuan bilateral, dan perundingan strategis.

Dan Presiden Prabowo sendiri, usai membuka acara, langsung terjun melihat suasana. Beliau, menurut informasi yang ada, telah melihat beberapa stan pameran. Mungkin melihat langsung inovasi terbaru di dunia pertahanan? Mungkin berinteraksi dengan perwakilan perusahaan-perusahaan teknologi militer dari berbagai negara? Dan yang pasti, beliau juga bertemu dengan tamu-tamu delegasi dari beberapa negara. Pertemuan-pertemuan ini, sekecil apapun kelihatannya di permukaan, seringkali menjadi fondasi penting bagi kerja sama di masa depan.

Skala Global yang Memukau di Jantung Jakarta

Mari kita bicara soal skala. Berapa banyak yang datang ke sini? Angkanya sungguh... membuat dahi berkerut saking banyaknya. Tercatat ada sebanyak 42 negara yang ikut meramaikan pameran ini. Empat puluh dua! Dari benua mana saja mereka datang? Pasti representasi yang luas dari komunitas global.

Selain negara, ada juga peserta dari kalangan industri, peneliti, dan pemangku kepentingan lainnya. Jumlahnya? Total 1.180 peserta. Seribu seratus delapan puluh. Bayangkan keramaian di JIExpo itu. Ribuan orang berkumpul di satu tempat, semua dengan satu benang merah: dunia pertahanan, kedirgantaraan, dan kemaritiman.

Mengapa angka-angka ini penting? Kehadiran 42 negara dan 1.180 peserta pameran ini menegaskan satu hal: Indo Defence bukan lagi acara pinggiran. Ini telah menjadi wadah strategis. Ya, kata kuncinya adalah strategis. Mengapa disebut strategis? Karena di sinilah... benang-benang diplomasi pertahanan antarnegara dipererat. Di sinilah peluang-peluang besar terbuka lebar. Peluang apa saja?

Lebih Dari Sekadar Jual Beli Senjata: Diplomasi dan Peluang Industri

Sumber menyebutkan bahwa Indo Defence ini membuka peluang besar dalam pengembangan industri militer. Pengembangan ini dilihat dari berbagai sisi. Pertama, dari sisi teknologi. Industri pertahanan itu selalu di garis depan inovasi teknologi. Radar terbaru, sistem komunikasi tercanggih, material komposit paling ringan tapi terkuat, drone dengan kemampuan luar biasa... semua ada di sini. Pameran ini menjadi ajang bagi negara-negara dan perusahaan untuk menunjukkan apa yang mereka punya, dan bagi Indonesia untuk melihat teknologi apa yang bisa diadopsi, dikembangkan, atau bahkan dikolaborasikan.

Kedua, dari sisi investasi. Industri pertahanan itu padat modal. Membangun pabrik amunisi, fasilitas perawatan pesawat tempur, galangan kapal perang... butuh investasi triliunan. Indo Defence menjadi ajang temu investor potensial dengan pelaku industri yang mencari modal, atau bahkan pemerintah yang menawarkan proyek-proyek besar.

Ketiga, dari sisi perdagangan. Ini mungkin yang paling kasat mata. Transaksi jual beli alutsista (alat utama sistem persenjataan). Pesawat terbang, kapal perang, tank, artileri, sistem rudal, senapan serbu... semua ini adalah produk yang diperdagangkan di pasar global. Indo Defence adalah salah satu pasar penting itu. Perwakilan militer dari berbagai negara datang ke sini, melihat-lihat, mengevaluasi, dan hopefully, melakukan pembelian. Bagi industri pertahanan dalam negeri kita, ini adalah kesempatan emas untuk mempromosikan produk mereka ke pasar global. Menunjukkan bahwa Indonesia juga mampu membuat alutsista yang canggih dan berkualitas.

Jadi, Indo Defence 2025 ini bukan cuma display statis. Ini adalah ekosistem yang bergerak. Tempat bertemunya pembeli dan penjual, inovator dan pengguna, diplomat dan pebisnis. Semua dalam satu arena, di JIExpo Kemayoran.

Indonesia sebagai Bagian dari Solusi Global: Mengusung Tema Perdamaian

Di tengah semua hiruk pikuk bisnis dan teknologi canggih itu, ada pesan yang lebih besar yang ingin disampaikan. Kehadiran ribuan delegasi, pelaku industri, dan pemangku kepentingan dari seluruh dunia di Jakarta ini, menurut penyelenggara, mempertegas posisi Indonesia. Posisi apa? Sebagai bagian dari solusi global.

Bagaimana bisa sebuah pameran pertahanan menjadi bagian dari solusi global? Solusi untuk apa? Ternyata, kata kuncinya adalah perdamaian. Ya, terdengar sedikit paradoks mungkin. Memamerkan alat perang demi perdamaian? Tapi filosofinya adalah, kekuatan dan kolaborasi itu bisa menjadi penjamin perdamaian. Deteren. Mencegah perang dengan menunjukkan kesiapan dan kemampuan.

Itulah sebabnya, Indo Defence 2025 mengusung tema yang sangat relevan dengan konteks global saat ini: "Defence Partnerships for Global Peace & Stability". Kemitraan Pertahanan untuk Perdamaian & Stabilitas Global. Tema ini bukan cuma slogan manis di spanduk. Ini adalah penegasan visi. Bahwa kolaborasi dan kerja sama pertahanan antarnegara itu penting. Bukan untuk saling mengancam, tapi justru untuk menciptakan perdamaian dan keseimbangan global.

Ini adalah pesan dari Indonesia. Di tengah dinamika geopolitik dunia yang penuh ketidakpastian, Indonesia ingin menunjukkan perannya. Kita ingin menjadi jembatan. Kita ingin menjadi bagian dari solusi. Kita ingin berkontribusi pada stabilitas global, dan salah satu jalannya adalah melalui kerja sama di bidang pertahanan.

Antara Bisnis dan Amanat Konstitusi: Pandangan dari Wakil Menteri Pertahanan

Narasi ini diperkuat oleh pandangan dari pemerintah, dalam hal ini diwakili oleh Bapak Donny Ermawan Taufanto, Wakil Menteri Pertahanan (Wamenhan). Beliau menekankan satu hal yang sangat penting. Menurut Wamenhan, tujuan dari forum Indo Defence ini bukan sekadar bisnis pertahanan. Bukan hanya urusan transaksi jual beli alutsista semata.

Lebih dari itu, kata beliau, Indo Defence ini menjadi bagian dari kontribusi Indonesia terhadap perdamaian dunia. Kontribusi ini bukan sesuatu yang mengada-ada. Ini adalah amanat. Amanat yang tertuang dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar (UUD) 1945. Ingat pasal Pembukaan UUD 1945 yang berbunyi "ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial"? Nah, Wamenhan Donny Ermawan Taufanto melihat Indo Defence ini sebagai salah satu cara Indonesia mewujudkan amanat luhur konstitusi itu.

Bagaimana pameran alutsista bisa berkontribusi pada perdamaian dunia berdasarkan amanat UUD 1945? Mungkin dengan membangun kemitraan yang saling percaya. Dengan berbagi teknologi yang bisa meningkatkan kemampuan pertahanan negara-negara sahabat, sehingga mereka mampu menjaga kedaulatan dan stabilitas di wilayahnya sendiri. Dengan menunjukkan bahwa industri pertahanan kita siap mendukung kebutuhan negara lain yang juga berjuang menjaga perdamaian.

Ini adalah perspektif yang dalam. Mengaitkan pameran teknologi militer dengan nilai-nilai fundamental berbangsa dan bernegara. Mengangkat Indo Defence dari sekadar ajang bisnis menjadi sebuah platform yang punya misi luhur.

Mengapa Stabilitas dan Perdamaian Begitu Penting? Kata Wamenhan...

Wamenhan Donny Ermawan Taufanto tidak berhenti di situ. Beliau menjelaskan lebih lanjut mengapa perdamaian dan stabilitas ini begitu krusial. Beliau mengungkapkannya dengan bahasa yang lugas, bahasa yang mungkin bisa kita pahami dengan mudah.

"Kita semua tahu," ujar Wamenhan, "bahwa global stability, peace itu sangat kita harapkan untuk perdamaian, untuk kesejahteraan."

Dua kata kunci: perdamaian dan kesejahteraan. Menurut beliau, keduanya saling terkait erat. Bahkan, yang satu adalah syarat mutlak bagi yang lain. "Kalau enggak damai, enggak stabil suatu negara, suatu kawasan, ya nonsense kita bisa mendapatkan kesejahteraan," tegas beliau.

Coba pikirkan. Di mana ada konflik? Di mana ada perang? Di mana ada ketidakstabilan politik atau keamanan yang parah? Apakah di sana ada kemajuan ekonomi yang signifikan? Apakah rakyatnya hidup sejahtera? Hampir pasti jawabannya tidak.

Perang menghancurkan infrastruktur. Konflik mengganggu aktivitas ekonomi. Ketidakstabilan mengusir investor. Uang yang seharusnya bisa dipakai untuk membangun sekolah, rumah sakit, atau jalan, justru terkuras untuk membiayai perang atau menjaga keamanan yang rapuh. Sumber daya alam tidak bisa dikelola dengan baik. Pertanian terhenti. Perdagangan macet. Kehidupan sosial berantakan. Orang sibuk bertahan hidup, bukan membangun masa depan.

"ekonomi enggak akan berkembang, sehingga ini menjadi harapan kita semua," lanjut Wamenhan. Jadi, harapan akan perdamaian dan stabilitas itu bukan hanya harapan segelintir orang atau segelintir negara. Itu adalah harapan universal. Harapan seluruh umat manusia yang menginginkan kehidupan yang lebih baik, kehidupan yang makmur, kehidupan yang aman.

Dan yang menarik, Wamenhan Donny Ermawan Taufanto menegaskan bahwa harapan ini bukan hanya milik Indonesia saja. "enggak hanya Indonesia saja, tapi semua negara," kata beliau.

Ini penting. Dalam konteks pameran pertahanan internasional, di mana wakil dari 42 negara berkumpul, menyampaikan pesan bahwa perdamaian dan stabilitas adalah harapan *semua* negara, itu sangat kuat. Itu menunjukkan bahwa di balik persaingan teknologi militer dan negosiasi bisnis, ada kesadaran bersama bahwa ujung dari semua ini seharusnya adalah terciptanya dunia yang lebih aman, lebih damai, dan lebih sejahtera untuk semua.

Indo Defence 2025 ini, dengan segala gemuruh pamerannya, dengan segala pertemuan bilateral para delegasinya, dengan segala presentasi teknologi terbarunya, ternyata menyimpan sebuah narasi besar. Narasi tentang peran Indonesia di kancah global. Narasi tentang bagaimana industri pertahanan bisa menjadi alat diplomasi. Narasi tentang pentingnya kemitraan antarnegara. Dan yang paling fundamental, narasi tentang betapa pentingnya perdamaian dan stabilitas sebagai prasyarat utama bagi kesejahteraan global.

Acara ini akan berlangsung hingga 14 Juni. Masih ada beberapa hari lagi bagi para peserta untuk saling berinteraksi, bernegosiasi, dan mungkin... menanam benih-benih kerja sama yang bisa berkontribusi pada perdamaian yang kita semua harapkan.

Jakarta, melalui Indo Defence 2025, kembali menunjukkan diri sebagai panggung penting. Panggung yang bukan hanya menampilkan kekuatan militer, tapi juga menggemakan pesan perdamaian. Panggung di mana bisnis bertemu diplomasi, dan teknologi bertemu harapan. Harapan akan dunia yang lebih aman, stabil, dan sejahtera. Sebuah pesan yang relevan, bukan hanya untuk para jenderal, menteri, dan pebisnis yang hadir di sana, tapi untuk kita semua.

```

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Silfester Matutina Tuding Ada Bohir di Balik Desakan Pemakzulan Gibran

Berikut adalah artikel yang Anda minta, dalam gaya Anderson Cooper yang informal dan menarik, siap untuk dipublikasikan: Skandal Bohir Pemakzulan Gibran: Siapa Dalang di Balik Layar? Skandal Bohir Pemakzulan Gibran: Siapa Dalang di Balik Layar? Anda tahu, di dunia politik, seringkali ada drama yang tersaji di depan mata kita. Tapi, pernahkah Anda berpikir, apa yang sebenarnya terjadi di balik panggung? Siapa yang menarik tali, siapa yang memegang kendali? Pertanyaan-pertanyaan semacam inilah yang tiba-tiba menyeruak ke permukaan, mencuat dari sebuah pengakuan yang cukup mengejutkan. Ini bukan sekadar desas-desus, ini adalah tudingan serius yang dilemparkan langsung oleh salah satu tokoh di barisan pendukung capres-cawapres yang baru saja memenangkan kontestasi, Bapak Silfester Matutina. Silfester Matutina, Ketua Umum Solidaritas Merah Putih (Solmet), baru-baru ini membuat pernyataan yang bisa dibilang mengguncang jagat politik...

Khotbah Jumat Pertama Dzulhijjah : Keutamaan 10 Hari Awal Bulan Haji

Khotbah Jumat kali ini mengangkat tema keutamaan 10 hari pertama bulan Dzulhijjah. Dan hari ini merupakan Jumat pertama di Bulan Haji tersebut bertepatan dengan tanggal 30 Mei 2025. Berikut materi Khotbah Jumat Dzulhijjah disampaikan KH Bukhori Sail Attahiry dilansir dari website resmi Masjid Istiqlal Jakarta. Khutbah ini bisa dijadikan materi dan referensi bagi khatib maupun Dai yang hendak menyampaikan khotbah Jumat. Allah subhanahu wata'ala memberikan keutamaan pada waktu-waktu agung. Di antara waktu agung yang diberikan keutamaan oleh Allah adalah 10 hari pertama bulan Dzulhijjah . Keutamaan tersebut memberikan kesempatan kepada umat Islam agar memanfaatkannya untuk berlomba mendapatkan kebaikan, baik di dunia maupun di Akhirat. Hal ini dijelaskan melalui Hadis Nabi shallallahu 'alaihi wasallam berikut: Artinya: "Dari Jabir radhiyallahu 'anhu bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Sebaik-baiknya hari dunia adalah sepuluh...

KIKO Season 4 Episode THE CURATORS Bawa Petualangan Baru Kota Asri Masa Depan

JAKARTA - Menemani minggu pagi yang seru bersama keluarga, serial animasi KIKO Season Terbaru hadir di RCTI dengan membawa keseruan untuk dinikmati bersama di rumah. Hingga saat ini, KIKO telah meraih lima penghargaan bergengsi di tingkat nasional dan internasional dalam kategori anak-anak dan animasi. Serial ini juga telah didubbing ke dalam empat bahasa dan tayang di 64 negara melalui berbagai platform seperti Disney XD, Netflix, Vision+, RCTI+, ZooMoo Channel, dan Roku Channel. Musim terbaru ini menghadirkan kisah yang lebih segar dan inovatif, mempertegas komitmen MNC Animation dalam industri kreatif. Ibu Liliana Tanoesoedibjo menekankan bahwa selain menyajikan hiburan yang seru, KIKO juga mengandung nilai edukasi yang penting bagi anak-anak Indonesia. Berikut sinopsis episode terbaru KIKO minggu ini. Walikota menugaskan Kiko dkk untuk menyelidiki gedung bekas Galeri Seni karena diduga telah alih fungsi menjadi salah satu markas The Rebel. Kiko, Tingting, Poli, dan Pa...